Pendidikan Anak: Cara Menemukan Sekolah Terbaik untuk Anak

Seorang teman, bernama Mba Wid tahun ajaran baru  kemarin bolak balik ke rumah untuk curhat dengan saya. Apa pasal? Putra semata wayang Mba Wid, yang lucu dan menggemaskan ternyata sudah mau menamatkan pendidikan Play Group nya dan bersiap masuk ke jenjang Taman Kanak- Kanak. Sedemikian banyak pilihan sekolah yang memberikan penawaran menarik, sehingga Mba Wid bingung, mana yang terbaik yang harus dia pilih untuk sang putra tercinta.

“Kemarin aku sudah survey sekolah di wilayah ini Mba….”, Mba Wid bercerita dengan semangat empat lima.

“O ya? Saya mengernyitkan dahi. Bukan apa-apa, Mba Wid ini setahu saya perempuan bekerja, tapi masih sempat-sempatnya meluangkan waktu untuk ‘shopping’ sekolah buat Habibie, putra semata wayangnya. Bukan satu sekolah, tetapi beberapa sekolah. Kalau pertemuan pertama kami, dihiasi dengan obrolan soal bangunan sekolah, kali ini meningkat ke soal kualitas tenaga pengajar.

“Kalau kepingin tau gurunya ‘care’ sama anak dan bisa mengajar dengan baik itu, caranya gimana ya Miss?” Mba Wid bertanya dengan mimik wajah serius.

“Mba Wid sudah ketemu sama kepala sekolahnya belum?” saya malah balik bertanya.

“Belum. Emang perlu? Sebenarnya apa sih yang harus aku lakukan Miss, biar tau banyak tentang sekolah tersebut. Aku nggak mau salah pilih soalnya”, Mba Wid memberondong saya dengan pertanyaan. Saya memahami sepenuhnya kebingungan Mba Wid. Menjatuhkan sebuah pilihan seringkali sungguh sulit, apalagi kalau menyangkut urusan anak yang berhubungan dengan masa depannya nanti. Perlu sebuah rujukan dan pertimbangan. Semakin banyak pilihan justru semakin membuat bingung.

Di kota besar seperti Jakarta ini begitu banyak  Taman Kanak – Kanak bermunculan.  Tak bisa dipungkiri jenjang Taman Kanak – Kanak bukanlah jenjang pendidikan yang diwajibkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Setahu saya kalau  masuk Sekolah Dasar tak pernah ada peraturan harus menyertakan ijazah dari TK. Tetapi zaman sekarang sudah berubah.

Banyak orang tua yang mengirim anaknya untuk masuk ke Taman Kanak- Kanak dengan berbagai pertimbangan. Malah ada yang menyekolahkan anak ketika masih berusia batita (dibawah usia tiga tahun).  Yang paling sering ditemui alasan, ingin mengenalkan anak dengan pendidikan sedini mungkin. Apapun pertimbangan itu, selama tidak ada unsur  paksaan atau hanya sekadar gengsi dan ikut-ikutan, toh tidak ada salahnya.   Masalahnya pilihan yang beragam membuat orang tua musti cermat memilih agar tidak salah menjatuhkan pilihan. Banyak Institusi pendidikan usia dini khususnya Taman Kanak–Kanak saling berlomba promosi tentang kelebihan yang dimiliki. Menjamin anak bisa membaca dan menulis bila bersekolah disana, sehingga orang tua tidak perlu repot-repot lagi mengajarkan dirumah. Ada lagi yang menawarkan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, atau program-program pembelajaran yang bertujuan agar perkembangan anak dapat dipacu secara  optimal.

Anak adalah penerus keluarga sekaligus penerus bangsa. Masa emas dari seorang anak tidak dimulai ketika mereka dibangku perkuliahan tetapi sejak masih berupa janin didalam kandungan sampai mereka berusia 6 tahun. Inilah masa terpenting bagi perkembangan seorang anak. Perlu penanganan yang tepat pada periode emas ini, agar tidak terjadi kesalahan yang berakibat fatal dimasa mendatang. Anak usia dini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia di atasnya sehingga pendidikan untuk mereka dipandang perlu untuk dikhususkan.

Pendidikan untuk anak usia dini sendiri saat ini mengalami kemajuan yang signifikan  dan mendapat perhatian yang luar biasa dibanyak Negara karena pengembangan sumber daya manusia lebih mudah dilakukan sejak usia dini. Pendidikan bagi usia awal merupakan investasi bangsa yang sangat berharga dan sekaligus merupakan infrastruktur untuk pendidikan selanjutnya.

“Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menemukan Taman Kanak – Kanak yang baik untuk Habibie Miss?  Mba Wid mencolek saya yang kedapatan bengong. Ups! Ketahuan J

  • Aturan / kebijakan sekolah masuk akal, ini meliputi persyaratan penerimaan siswa baru. Misalnya tidak harus ada ketentuan anak harus bisa duduk diam, jam belajar tidak terlalu panjang, beban belajar tidak terlalu berat untuk usia anak TK. Faktor lain yang sebaiknya diperhatikan adalah uang masuk yang tidak terlalu mahal (hal yang terakhir ini dikembalikan lagi kepada orang tua)
  • Lokasi dan penataan sekolah tersebut relatif aman untuk anak. Misalnya, kalau sekolah tersebut berada ditepi jalan raya, perhatikan system pengamanan dan jumlah orang yang ditempatkan untuk mengatur hal tersebut. Hal lain dari segi penataan, umpamanya sekolah tersebut bertingkat, cek apakah tangga yang menghubungkan lantai satu ke lantai atas dipasang pagar pengaman (gate) sehingga anak terkontrol ketika turun naik. Apabila sekolah tersebut mempunyai kolam renang, coba lihat, apakah sekeliling area dilengkapi pagar pengaman dan pagar tersebut selalu dalam keadaan terkunci ketika pelajaran berenang tidak sedang berlangsung.
  • Sarana dan fasilitas yang ada disekolah tersebut laik pakai dan sesuai dengan kebutuhan anak yang tentu saja dimaksudkan untuk mengembangkan aspek – aspek perkembangan anak (sosial emosional, spiritual, kognitif , fisik motorik dan pengembangan keterampilan seni). Misalnya, mainan perosotan terbuat dari bahan yang aman untuk anak serta dilengkapi dengan area panjat tali, terowongan yang bisa dipergunakan anak ketika pelajaran olahraga berlangsung. Perhatikan juga alat-alat mainan yang dipajang. Apakah bersih atau berdebu, kualitas serta bahannya.
  • Program dan kegiatan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Disamping itu pendekatan dan cara pembelajaran menekankan pada prinsip learning is fun, dengan arti kata pembelajaran menekankan pada proses bukan pada hasil akhir.

Untuk Tenaga pendidik dan non kependidikan cermati hal-hal dibawah ini ketika anda berkunjung ke sebuah sekolah:

  • Guru dan staf di sekolah tersebut ramah dan bersahabat. Perhatikan reaksi orang – orang  ketika anda memasuki area sebuah sekolah. Apakah ada sapaan hangat yang menawarkan bantuan atau justru tatapan tanpa arti dan sikap acuh tak acuh. Sekolah yang baik selalu menekankan pentingnya bersopan santun ketika menerima tamu/orang tua murid. Yang paling penting lihatlah kondite guru–guru yang mengajar. Apakah disiplin, tegas (bukan keras), sayang dan mengayomi siswa. Guru mampu memberikan keteladanan dalam penerapan nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan dan teladan lain sampai tahap implementasi, bukan berhenti hanya sampai tahap kesimpulan diskusi atau bahkan sekedar ditulis sebagai jargon sekolah tersebut agar orang tertarik untuk memasukkan putra putrinya ke tempat tersebut.
  • Tidak melakukan diskriminasi atas dasar apapun, termasuk dalam hal tingkat kecerdasan murid. Misalnya,  kasus penolakan siswa karena orang tua anak tersebut mengidap penyakit tertentu, atau hal yang masih banyak terjadi saat ini adalah orang tua cerewet maka akan berdampak tidak baik terhadap anaknya sebaliknya orang tua yang rajin memberikan hadiah maka anaknya akan mendapatkan perhatian penuh dari guru. Memang tidak semuanya seperti ini, tapi kita juga tidak perlu menyangkal realita yang ada. Sekolah yang baik adalah dimana setiap tenaga pendidik/non kependidikan cukup punya harga diri, sehingga tidak ‘menjual diri’ kepada wali murid, untuk  kepentingan apapun.
  • Guru sangat concern untuk mendidik dan tidak disibukkan dengan masalah administrasi (kerja rangkap), atau bahkan berdagang/berbisnis  dengan orang tua dalam lingkungan sekolah apalagi di lakukan dalam jam mengajar.
  • Tidak ikut – ikutan atau terseret arus , sehingga masih berani berbudaya Indonesia. Lihat bagaimana cara setiap orang ditempat tersebut bertutur dan bertindak. Tidak masalah kalau sekolah yang kita datangi memakai pengantar bahasa asing diluar Bahasa Indonesia (misalnya, Bahasa Inggris). Bukan bahasa yang bermasalah tetapi budaya yang dipergunakan. Hidup di Republik Indonesia yang kaya dengan warna ini, tentu kita menginginkan anak kita dididik oleh orang yang berkarakter Indonesia tetapi memiliki orientasi internasional sehingga anak tersebut bangga dan loyal terhadap tanah airnya .

Lalu, bagaimana caranya orang tua mengetahui hal-hal yang disebutkan diatas?

  • Cari informasi awal melalui website (bila sekolah tersebut memilikinya). Manfaatkan email untuk bertanya dan mencari informasi mengenai sekolah yang dituju.
  • Buat janji untuk bertemu dengan kepala sekolah/pengelolanya. Sekolah yang menerapkan prinsip keterbukaan biasanya bersedia untuk berdiskusi mengenai sekolah dengan calon orang tua baru. Bagi sekolah tidak ada hal yang perlu di sembunyikan karena mendidik anak usia dini justru harus dilakukan oleh kedua belah pihak, sekolah dan rumah agar pengembangan potensi anak berlangsung maksimal . Orang tua di sini bisa bertanya langsung tentang profil guru – guru yang mengajar ditempat tersebut. Latar belakang pendidikan,pengalaman mengajar. Bagi beberapa sekolah banyak ditemui guru-guru baru yang fresh graduate dan minus pengalaman mengajar. Bila hal ini anda temui di sekolah yang didatangi, tanyakan bagaimana program pengembangan kemampuan  guru – guru ditempat tersebut,misalnya, apakah sekolah memberikan  pelatihan intensif dan berkelanjutan bagi guru – guru tersebut? Berkelanjutan maksudnya, dunia anak usia dini unik dan berkembang sesuai zaman, guru – guru perlu terus menerus di up grade tentang perkembangan tersebut agar tidak tertinggal.
  • Bisa juga datang langsung ke sekolah dan melakukan observasi dengan terlebih dahulu meminta izin pada pihak sekolah. Perhatikan ruang gerak anak di kelas , kebersihan kelas , jadwal kegiatan sehari – hari hingga evaluasi anak. Amati kualitas guru dalam mengajar, kemampuan mendeteksi secara dini bakat anak, hubungan guru dengan orang tua atau hubungan guru dan siswa. Di beberapa sekolah terkadang disediakan program ‘free trial’ yaitu program mencoba kelas selama satu hari atau dua hari untuk si anak. Anak di ajak masuk ke kelas dan berinteraksi dengan sebayanya dan guru di sekolah tesebut. Biasanya pada saat program ini dilakukan orang tua diizinkan masuk untuk melihat proses belajar mengajar berlangsung.
  • Bila memungkinkan bertanyalah kepada orang tua yang pernah menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.

Bila hal–hal di atas sudah dilaksanakan, sekarang tinggal orang tua yang memilih, mana yang paling baik untuk si buah hati? Mau mahal, murah, kualitas atas atau bawah semua sama selama proses pendidikan anak usia dini itu sendiri berlangsung dengan baik, terencana tanpa mengabaikan hak-hak anak.

“Bagaimana Mba…? Kali ini saya yang mencolek Mba Wid yang terpekur serius mendengar penuturan panjang lebar dari saya barusan.

“Apanya?” Mba Wid kaget dengan pertanyaan saya yang tiba-tiba.

“Siap tidak ‘berburu’ sekolah TK terbaik untuk Habibie?”

“Siap! Aku sudah bikin catatan buat ditanyakan pada Kepala Sekolah x besok”, Mba Wid menyodorkan kertas – kertas berisi coretan tangannya.

“Hah!Banyak banget! Kali ini saya yang ternganga dan geleng-geleng kepala.

Mari mencari  sekolah terbaik !

 

Tulisan dari  : @darnisriani

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.