Perjuangan Tangan Kiri

 


, Perjuangan Tangan KiriOleh: Ibnu Umar

Entahlah. Mungkin ini terlalu berlebih-lebihan. Terlalu memperbesar masalah. Namun, bagaimanapun—maaf agak semakin lebay menggunakan kedua kata “namun, bagaimanapun”—pikiran saya yang dangkal dan jikapun agak maju, sedikit generik, terus terganggu dengan kenyataan-kenyataan kecil yang tengah saya lihat.

Baiklah, ini bicara tentang Palestina. Tentang sebuah perjuangan besar melawan penjajahan di atas muka bumi ini. Bagi kita, orang Muslim, setidaknya, persoalan Palestina menjadi sesuatu yang hebat dan heroik, makanya, in anyway, kita akan selalu berusaha terlibat di dalamnya. Mungkin dengan cara yang besar. Atau juga yang kecil.

Yang dianggap paling besar, mungkin pergi langsung ke tanah Palestina berjihad—walau kemudian, timbul pertanyaan sangat skeptis: mau apa kita di sana dan bisa apa kita menghadapi peperangan? Jika modal ghiroh jihad saja, tampaknya ya gimana gitu, orang-orang Palestina sepertinya tidak terlalu membutuhkan—orang kita mengongkang senjata saja tidak bisa. Atau potong ayam dan melihat darahnya menyembur pun agak-agak ngeri.

Yang dianggap besar adalah mungkin menyelenggarakan seminar dan konferensi tentang Palestina. Se-wilayah tertentu. Se-megah mungkin di hotel tertentu. Se-banyak mungkin diliput media nasional dan internasional tertentu.

Cuma, kemudian, adakah semua itu kemudian bisa benar-benar berfungsi dengan baik? Suatu ketika saya pernah menyaksikan, bahwa hampir orang-orang yang ada di sebuah gedung mewah yang tengah memperjuangkan Palestina, melewatkan sebagian hal-hal kecil. Saya tidak tahu apakah itu penting bagi mereka, tapi saya dan keluarga saya yang hanya berempat (saya, istri dan dua anak saya), sudah sejak lama bersepakat tentang hal ini. Saya melihat mereka, panitia dan peserta seminar perjuangan Palestina itu, dalam acara coffee break menyantap hidangan di hotel dengan sambil berdiri. Dan juga sebagian memakai tangan kiri. Ada juga yang duduk di meja sambil mengobrol.

Saya jadi heran sendiri, bagi saya kok ini jadi agak-agak kontraproduktif gitu. Saya selalu beralasan bahwa perjuangan besar menuju peradaban Islam itu dimulai dari sekarang, dari kita sendiri, dari hal yang paling kecil, dan itu semua sudah dicontohkan dan disebutkan oleh Rasulullah. Sementara kita berteriak tentang anak-anak Palestina, tapi ternyata kita masih membeli produk-produk yang nyata-nyata menyokong Yahudi. Sementara kita ingin menyingkirkan Yahudi, tapi kita pun yang ada di sini—berasal dari berbagai negara, Indonesia, se-wilayah tertentu, dan juga dari banyak negara Arab—biasaaja gitu makan dan minum sambil berdiri. Mungkin saya saja kalee yang nggak modern?

Satu perjuangan yang dianggap recehan adalah memboikot produk Yahudi itu dari rumah. Bagaimana bisa? Bisa. Saya Alhamdulillah sudah membuktikannya. Selama tiga tahun ini, kami benar-benar berhenti memakai produk-produk Yahudi. Jika pun iya, maka itu adalah opsi paling akhir setelah kami sekeluarga keliling-keliling mencari ke segenap penjuru. Memang sulit. Dan mungkin agak gila dan sableng (begitu kata teman saya). Tapi itulah perjuangan yang bisa saya dan keluarga berikan saat ini untuk Palestina.

Ketika anak saya laki-laki menginginkan satu es krim yang jelas-jelas menjadi underbow Yahudi, ia merengek-rengek, “Satu kali ini ajaaa yahhhh. Nyoba aja. Setelah itu nggak lagi-lagi,” dengan muka yang pengen banget karena teman-teman sekolahnya tampak asyik menikmati.

Istri saya menukas dengan tegas—dan saya menganggapnya itu sebagai sebuah pengajaran tauhid terhadap anak saya (tauhid? Halah, apa pula ini?): “Kalau kamu nggak beli dan nggak memakan es krim itu,” ujar istri saya sambil senyum namun agaknya sama sekali nggak terdengar indah di telinga anak saya, “Kamu nggak bakal kenapa-napa. Kamu masih bisa makan es krim yang lain. Tapi jika kamu membelinya, bakal ada anak Palestina yang mati.”

Anak saya: “Iyaaa laahhh…”

Saya: garuk-garuk kepala. Yet, I mostly agreed with my wife. Walaupun ini perjuangan kecil dan mungkin dianggap sangat sepele oleh teman-teman aktivis dakwah—karena mereka saya lihat dan saya saksikan, tanpa pernah ada beban begitu saja ketika membeli produk-produk yang jelas-jelas menjadi mind project Yahudi.

Jakarta, 2011     

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.