Pernikahan Malikah

0

tangan cincinAl-Malikah namanya. Perempuan yang sangat cantik di kalangan Bani Israel. Sayang, kecantikan yang dimiliki disalahgunakan olehnya. Al-Malikah sehari-hari berprofesi sebagai seorang pelacur. Karena kecantikannya, Al-Malikah termasuk pelacur berkelas. Bayarannya tinggi. Tarifnya 10 dinar sekali kencan.

Banyak orang yang tergila-gila dengan kecantikan Al-Malikah. Salah satunya adalah seorang pemuda bernama Abid. Sayangnya, Abid bukanlah orang kaya yang memiliki banyak uang sehingga bisa mengajak kencan Al-Malikah.

Namun, karena Abid ingin sekali bisa berkencan dengan Al-Malikah, Abid pun bekerja keras membanting tulang untuk mengumpulkan uang. Setelah sekian lama bekerja, akhirnya Abid bisa mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar. Dengan berbekal uang sebanyak itu, Abid segera menemui pelacur idamannya itu.

“Silakan masuk,” kata Al-Malikah menyambut kedatangan Abid. “Langsung masuk ke kamar saja,” lanjut Al-Malikah.

Mendengar sapaan lembut itu, Abid segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar di mana Al-Malikah berada. Hati Abid berdesir. Hari ini, segala rasa dan keinginannya yang membuncah untuk bisa berkencan dengan Al-Malikah akan terpenuhi.

Namun, ketika Abid sudah berada di kamar dan duduk di atas ranjang, tubuhnya mendadak gemetar. Peluh dingin membasahi tubuhnya. Dan ketika Al-Malikah memeluknya, Abid meronta berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan! Lepaskan aku! Dan ambillah uang 1000 dinar yang ada dalam sakuku,” teriak Abid seraya berusaha bangkit dari ranjang pelacur itu.

“Kenapa kau? Apa yang terjadi pada dirimu?” tanya Al-Malikah tak mengerti.

“Aku takut,” kata Abid masih gemetaran.

“Takut? Takut sama siapa?” tanya Al-Malikah.

“Aku takut kepada Allah. Bagaimana nanti aku harus mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatku ini kepadanya?” ujar Abid.

Mendengar jawaban itu, Al-Malikah menjadi tertegun, termangu di atas ranjangnya. Takut kepada Allah? Tanyanya dalam hati. Sungguh kata-kata itu telah menyelusup ke relung hatinya, menyentuh nuraninya. Suatu kejadian aneh atas dirinya, yang tak pernah ia alami sebelumnya. Padahal telah berpuluh-puluh lelaki jatuh ke pelukannya, tapi yang bersikap seperti Abid baru ditemuinya kali ini.

Tak terasa airmata Al-Malikah menetes membasahi pipinya. Terbayang semua dosa yang selama ini ia lakukan sebagai seorang pelacur. Terdorong oleh rasa simpatinya, Al-Malikah pun berkata kepada Abid. “Aku merasa bersimpati kepadamu, dan aku merasa sangat kagunm akan keimananmu. Maukah kau mengambilku sebagai istri?” kata Al-Malikah sambil tersedu.

“Mengambilmu sebagai istri? Oh, jangan! Aku akan pergi meninggalkan tempat ini,” sahut Abid seraya bergegas meninggalkan kamar perempuan itu.

“Jangan pergi! Bila kau tak bisa melakukan karena kita bukan suami-istri, jadikanlah aku istrimu,” kata Al-Malikah.

“Mana mungkin?” sahut Abid tak mengerti.

“Kenapa tidak mungkin? Aku sangat kagum dengan sikap dan ketakwaanmu. Silahkan kau meninggalkan tempat ini, tapi kau harus berjanji akan menikahiku,” kata Al-Malikah.

“Baiklah kalau begitu,” kata Abid tanpa pikit panjang lagi sambil meninggalkan kamar Al-Malikah.

Begitu Abid meninggalkan kamarnya, Al-Malikah bertekad akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur. Ia merasa menyesal atas perbuatannya selama ini dan mulai detik ini juga ia akan bertaubat.

Terkadang hidayah Allah memang tak bisa diduga. Tanpa sengaja, lelaki yang baru saja meninggalkan kamarnya itu telah menyadarkan dirinya dari perbuatan maksiat yang bergelimang dan berlumur dosa. Dan kini ia juga bertekad agar dirinya diambil istri oleh lelaki itu.

Beberapa hari kemudian, dengan hati yang berdebar-debar, Al-Malikah datang ke desa tempat tinggal Abid untuk mencarinya. Mendengar dirinya dicari oleh Al-Malikah, Abid menjadi sangat ketakutan. Abid tak membayangkan bahwa Al-Malikah benar-benar akan mencarinya. Karena sangat takutnya, Abid jatuh pingsan dan akhirnya meninggal dunia.

ketika mengetahui kematian Abid, Al-Malikah menangis tersedu-sedu. Ia merasa sedih dan kecewa. Lelaki bertakwa yang diharapkan menjadi suaminya telah meninggal sebelum sempat menikahi dirinya.

“Bila saar ini urung menjadi suami Abid, biarlah aku akan menikah dengan saudara Abid,” kata Al-Malikah dalam hati. Hal ini dilakukan terdorong oleh keinginannya untuk menebus dosanya selama ini.

Dengan berusaha payah Al-Malikah mencari tahu dan menelusuri tentang keluarga Abid. Akhirnya, dari seorang teman Abid diketahui, bahwa Abid mempunyai saudara laki-laki, tetapi sangat miskin. “Saudaranya Abid itu sangat miskin. Engkau akan sangat menyesal kalau engkau menikah dengannya,” kata teman Abid mengingatkan Al-Malikah.

“Biar dia miskin aku tak peduli,” jawab Al-Malikah spontan. “Aku tetap ingin menikah dengannya, sebagai rasa cintaku kepada saudaranya.”

Beberapa pekan kemudian, terlaksanalah perkawinann Al-Malikah, mantan pelacur cantik, dengan saudara lelaki Abid yang miskin. Allah telah membuka hati Al-Malikah dengan taufik dan hidayahnya. Berbahagialah mantan pelacur itu. []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline