Pilih Sukses atau Bahagia?

0

muslimah cantik

Seorang teman, sebut saja namanya Dewi, adalah mahasiswi yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian tesis. Dia mengaku hidupnya tidak bahagia.

“Kenapa tidak bahagia?” tanya saya.
“Karena saya belum lulus juga.”
“Jadi kamu akan bahagia jika sudah lulus?”
“Tentu saja.”
“Berarti kalau nanti ternyata tidak lulus, kamu tak akan bahagia?”
“Jelas, dong. Tentu saya kecewa. Semua pengorbanan saya selama bertahun-tahun ternyata sia-sia.”
“Oke. Berarti dari jawaban kamu tadi, artinya sukses identik dengan bahagia, ya? Orang sukses pasti bahagia. Orang yang belum sukses pasti tidak bahagia.”
“Ah tidak juga,” Dewi berkilah. “Kebahagiaan bukan diukur dari sukses tidaknya kita.”
“Lho, katanya tadi kamu akan bahagia bila sukses lulus ujian tesis, dan tidak bahagia bila tidak lulus. Ini artinya sukses identik dengan bahagia, bukan?”
“Hm… tidak selamanya begitu.”
“Jadi gimana dong, yang benar?”

Sahabatku,

Ketika ada orang berkata, “Sukses tidak selamanya identik dengan bahagia,” ini artinya sukses dan bahagia pada dasarnya memang tidak sama. Kalau kita berkata, “Kadang-kadang sukses membuat bahagia, kadang-kadang tidak,” maka semakin terlihat kerancuan keduanya. Makin jelas terlihat bahwa:

SUKSES DAN BAHAGIA ITU TIDAK SAMA
Tak ada hubungan apapun di antara mereka. Jangan dicampuradukkan, sebab hanya akan bikin bingung sendiri

SUKSES DAN BAHAGIA ITU TIDAK SAMA, karena:

I. SUKSES itu terletak pada tujuan, pada pencapaian. Jika saya ingin lulus kuliah S3, maka saya akan sukses jika sudah lulus S3. Jika Anda ingin punya penghasilan Rp 2 miliar perbulan, maka Anda akan sukses jika penghasilan Anda sudah sebesar itu.

Apakah saya bahagia bila sudah lulus S3? Apakah Anda bahagia setelah berpenghasilan Rp 2 miliar perbulan?

Jawabannya: Belum tentu. Tergantung banyak hal. Sebab sukses dan bahagia memang tidak sama..

II. BAHAGIA letaknya pada PIKIRAN.
Bahagia itu tergantung dari CARA KITA MEMIKIRKAN SESUATU.

Orang yang berpenghasilan Rp 2 miliar sebulan bisa saja tidak bahagia, jika dia tidak pernah mau bersyukur dan selalu merasa kurang.

Sebaliknya, orang yang berpenghasilan Rp 500.000 perbulan bisa saja sangat bahagia, jika dia selalu bersyukur dan berpikiran positif terhadap nasib.

BAHAGIA itu letaknya di pikiran. Karena letaknya pada pikiran, maka kita bisa bahagia kapan saja kita mau, walaupun saat itu kita belum sukses.

Jika kita sedang sedih dan ingin bahagia, maka yang perlu kita lakukan hanya satu hal: MENGUBAH PIKIRAN. Itu saja. [jonru]

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline