‘Puasa Ulat’ dan ‘Puasa Ular’

 

, ‘Puasa Ulat’ dan ‘Puasa Ular’Ramadhan adalah tamu agung. Pada bulan Ramadhan pahala dilipatgandakan, amalan sunnah pahalanya sama dengan amalan wajib, apalagi pahala amalan wajibnya, Subhanalloh. Sebagai tamu agung, Ramadhan harus kita sambut dengan gembira dan suka cita, bahkan Rasululloh dalam haditsnya menyebutkan bahwa diharamkan tubuh seorang muslim terkena percikan api neraka apabila ia menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita.

Ada 3 golongan yang lulus ketika ia melewati Ramadhan. Pertama, adalah orang yang lulus dengan peringkat terbaik,bisa di sebut sebagai puasa Ulat. Ulat sebelum ia berubah menjadi Kupu-kupu ia melewati masa berpuasa ketika ia menjadi kepompong, ia makan dengan lahap sebagai perbekalan ketika ia masuk ke masa inkubasi.

Setelah ia melewati tahap kepompong ia pun berubah yang tadinya seekor Ulat bulu yang menjijikkan dan dibenci banyak orang menjadi seekor Kupu-Kupu yang indah dan banyak disanjung orang karena keindahannya (kecuali ngengat yang gatelnya minta ampun..). Ini analogi bagi orang yang setelah Ramadhan segalanya berubah menjadi lebih baik dari sebelummya, entah itu ibadahnya, disiplinnya, kejujurannya, kepribadiannya, dan lain sebagainya.

Kedua, adalah orang yang lulus dengan peringkat biasa-biasa saja (STD ajah..). Ini adalah perumpamaan orang yang setelah melewati bulan puasa, tak ada perubahan sama sekali, sama aja dengan sebelum berpuasa, ibadahnya kitu-kitu wae (kata orang sunda mah), sikapnya pun tak banyak berubah (berubah paling hanya sedikit, tapi…mending berubah daripada tidak sama sekali, asal jangan tambah buruk).

Dan yang ketiga adalah orang yang tidak lulus (Naudzubillah), kalau dianalogikan ini adalah puasanya Ular. Ular sebelum berganti kulit ia berpuasa (gtw jg c, blm prnh ngalamin..), ia juga mengasingkan diri sebelum ia mengganti kulit lamanya dengan kulit yang baru. Dan setelah ganti kulit apa yang terjadi? Walaupun Ular telah mengganti kulitnya, ia tetap saja berbahaya, ia masih bertaring dan berbisa, malah bisa jadi setelah ia ganti kulit ia malah jauh lebih agresif (pelampiasan setelah berpuasa mungkin..).

Nah, ini adalah perumpamaan bagi orang yang setelah melewati bulan Ramadhan tidak ada perubahan dalam hal ibadah maupun kepribadiannya. Bisa jadi malah bertambah buruk, yang tadinya rajin shalat lima waktu karena kesibukannya mengejar dunia jadi cuma shalat maghrib doang, atau yang tadinya rajin mengaji, tapi karena tidak tahan dijulukin ‘Pak Ustad’ oleh teman-temannya, malah ikut-ikutan nimbrung sama teman-teman yang suka ngeledekinnya.. Naudzubillah.

[adzhal1977]

Artikel Terkait

Ruangan komen telah ditutup.