in

Putri-Putri Rasulullah (4): Fatimah

 

N67-630693Pada suatu ketika, Abu Bakar ra. pernah datang kepada Rasulullah SAW. dan meminang Fatimah ra. untuk dijadian sebagai istrinya. Hal itu dijawab oleh Beliau SAW. dengan halus, “Wahai Abu Bakar, tunggulah ketetapan tentang Fatimah.’ Jawaban Rasulullah SAW. ini diceritakan oleh Abu Bakar ra. kepada Umar bin Khattab ra.. Umar berkata, itu artinya beliau menolakmu, wahai Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar ra. menyarankan kepada Umar ra, ‘Sekarang cobalah kamu yang menanyai Rasulullah SAW. untuk meminang Fatimah.’ Atas anjuran tersebut, maka Umar ra. pergi menjumpai Rasulullah SAW. dan meminta kepada Beliau SAW. untuk menikahkan Fatimah ra. dengannya. Pada kali itu pun Rasulullah SAW. menjawab, ‘Wahai Umar, Tunggulah ketetapan tentangnya.’

Setelah dijawab demikian, Umar ra. menemui Abu Bakar dan menceritakan hal ini kepadanya. ‘Berarti beliau juga telah menolakmu wahai Umar.’ Kata Abu Bakar ra.. Selanjutnya keluarga Ali ra. telah menyarankan kepada Ali ra., ‘Mintalah kepada Rasulullah SAW. agar kamu dapat meminang Fatimah.’ Maka Ali ra. mendatangi Rasulullah SAW. untuk meminang Fatimah. Pinangan ini diterima oleh beliau dengan baik. Dan pada hari itu juga Rasulullah SAW. telah menikahkannya dengan Fatimah ra. dengan mahar beberapa pakaian bekas dan kulit domba.

Dan ketika itu, perlengkapan pengantin wanitanya antara lain adalah tempat tidur dari dedaunan kurma, bantal kulit berisi jerami, bejana kulit kecil dan kantong air dari kulit. Untuk pernikahan itu, Ali ra. telah menjual seekor unta miliknya dan sebagian barang-barangnya, sehingga terkumpul 480 dirham. Setelah terkumpul Rasulullah SAW. menyuruh Ali, “Belikaniah dua pertiga dari uang itu untuk wangi-wangian dan yang sepertiganya untuk barang-barang.’ Setelah menikahi Fatimah, maka Nabi SAW. berkata kepada Ali ra., ‘Carilah rumah’. Maka Ali pun mencari sebuah rurnah untuk tempat tinggalnya bersama keluarga baru. Ia menemukan sebuah rumah yang agak jauh dari kediaman Rasulullah SAW. Karena rasa sayang Rasulullah SAW. kepada Fatimah, beliau berkata kepada Fatimah, ‘Aku ingin kalian pindah agar berdekatan denganku.’ Fatimah menjawab, ‘Sebaiknya ayahanda, meminta kepada Haritsa bin Nu’man untuk pindah demi aku.’

Rasulullah SAW. menjawab, ‘Haritsa dulu pernah pindah demi kita, jadi aku enggan untuk memintanya kembali.’ Hal ini telah terdengar oleh Haritsa, sehingga ia datang menemui Rasulullah SAW. dan berkata, ‘Ya Rasulullah SAW, aku telah mendengar bahwa engkau ingin agar Fatirnah pindah ke dekat rumahmu. Rumah-rumahku adalah rumah Bani Najjar yang paling dekat ke rumahmu. Aku dan hartaku adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, Ya Rasulullah SAW. aku lebih menyukai uang yang engkau ambil dariku daripada yang tinggal.’ Rasulullah SAW. berkata, ‘Engkau telah berkata dengan sebenarnya, semoga Allah memberkatimu.’ Maka Rasulullah SAW. memindahkan Fatimah ke rumah Haritsa.

Ali dan Fatimah ra. adalah pasangan suami istri yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Tempat tidur mereka terbuat dari kulit domba. jika mereka akan tidur, mereka harus membalikkan bulunya terlebih dahulu. Sedangkan bantainya terbuat dari kulit yang diisi jerami. Walaupun demikian, hari-hari mereka telah diisi dengan kebahagiaan. Pada suatu ketika, Fatimah berkata, ‘Demi Allah, aku telah menumbuk gandum sampai tanganku lecet.’ Maka Ali ra. menganjurkan kepada istrinya, agar menjumpai Rasulullah SAW. untuk meminta tawanan-tawanan perang sebagai pembantu di rumahnya.

Fatimah pun segera menemui Rasulullah SAW.. Sesampainya di sana, banyak sahabat sedang berkumpul di sisi Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. bertanya, ‘Ada apa, wahai putriku?’ Fatimah menjawab, ‘Aku datang untuk mengucapkan salam untukmu.’ Fatimah terlalu segan untuk mengutarakan maksudnya, sehingga ia kembali pulang tanpa tertunaikan maksud kedatangannya. Sesampainya di rumah Ali bertanya, “Bagaimana haslinya?’ Fatimah menjawab, ‘Aku terlalu malu untuk meminta kepada beliau.’ Kemudian mereka berdua datang menghadap Rasulullah SAW..

Ali ra. berkata, ‘Ya Rasulullah SAW., Fatimah telah menimba air sampai dadanya luka.ia telah menumbuk (gandum) sampai tangannya lecet. Dan Allah telah memberimu rampasan perang dan kekayaan, berilah kami seorang pelayan.’ Namun Rasulullah SAW. menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberimu pelayan, dan membiarkan ahli Shuffah menahan perutnya karena kelaparan. Aku tidak mempunyai sesuatu untuk mereka, jadi aku akan menjual barang rampasan itu dan memberikannya kepada mereka. Maukah kalian kuceritakan sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta tadi? Mereka menjawab, ‘Ya, tentu saja.’ Beliau berkata, ‘Yaitu beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku. Ketika kalian beristirahat di tempat tidur ucapkanlah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Dan nasehat itu telah menjadi amalan rutin keluarga Fatimah ra.

Ali ra. berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah mengabaikan bacaan itu sejak Rasulullah SAW. mengajarkannya kepada kami.’ lbnu Kiwa’ berkata kepadanya, ‘Bahkan pada malam perang Siffin?’ Ali menjawab, ‘Semoga Allah murka pada kalian, wahai penduduk lrak.

Suatu ketika, Ali ra. pernah berbuat kasar kepada Fatimah ra. Lalu Fatimah ra. mengancam Ali ra., Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW.!’ Fatimah pun pergi kepada Nabi SAW. dan Ali ra. mengikutinya. Sesampainya di sana, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali ra.. Nabi SAW. menyabarkannya, ‘Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga dan pahami. Bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang.’ Ali ra. berkata, ‘Kalau begitu aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan.’ Fatimah pun berkata, Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak engkau sukai.’

Juga disebutkan dalam riwayat lain, Pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah SAW. datang, dan Ali ra. menyediakan tempat untuk Rasulullah SAW. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi SAW.. lalu Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah SAW. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah SAW., ‘Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian, lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu.’Beliau menjawab, ‘Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?’

Pada suatu ketika, ‘Aisyah ra. sedang duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian datanglah Fatimah dengan gaya berjalannya yang sama dengan gaya berjalan Rasulullah SAW. Nabi SAW. menyambutnya, ‘Selamat datang, Putriku.’ Lalu Beliau mendudukkan Fatimah di sampingnya dan membisikkan sesuatu kepadanya sehingga Fatimah menangis. Kemudian beliau kembali membisiki lagi kepada Fatimah, dan dia tertawa. Melihat hal ini, ‘Aisyah bertanya, ‘Mengapa engkau menangis lalu tertawa setelah dibisiki oleh Rasulullah SAW. Apa gerangan yang telah dibisikkan Rasulullah SAW. kepadamu?’ Fatimah menjawab, ‘Aku tidak akan membuka rahasia beliau.’

Ketika Rasulullah SAW. wafat, ‘Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah, dan ia menjawab, ‘Rasulullah SAW. membisikiku, ‘Jibril selalu mendatangiku setiap tahun dan mengulangi Al-Qur’an kepadaku satu kali. Namun, pada tahun ini dia datang kepadaku dua kaii dan membacakan Al-Qur’an kepadaku dua kali. Aku merasa ajalku sudah dekat. Aku penghulu terbaik bagimu.’ Maka aku menangis. Lalu Beliau membisikkan lagi, ‘Engkau orang yang paling cepat menyusuiku dari keluargaku.’ Maka aku tertawa karenanya.

Pada hari-hari menjelang kematiannya, Fatimah disrerang sakit yang parah. Abu Bakar ra. pergi mengunjungi Fatimah dan meminta izin untuk masuk. Maka Ali berkata kepada istrinya, Fatimah, ‘Ada Abu Bakar di depan pintu. Apakah engkau mengizinkannya masuk?’ Fatimah ra. mengembalikan pertanyaan itu kepada suaminya, ‘Apakah engkau setuju?’ ‘Ya,’ jawab Ali. Maka Abu Bakar ra. masuk untuk mengunjunginya dan menghiburnya sehingga membuat Fatimah senang. Dan pada ketika sakitnya itu, Salma datang menengoknya. Sedangkan pada hari itu Ali ra. sedang keluar. Fatimah berkata kepada Salma, ‘Tuangkaniah air untuk mandiku.’ Maka Salma menuangkan air untuk mandi Fatimah dengan cara yang terbaik. Kemudian Fatimah berkata, ‘Bawakantah bajuku yang baru.’ Maka Salma memberikan pakaian baru kepadanya dan dia pun mengenakannya. Kemudian Fatimah berkata lagi, ‘Angkatlah tempat tidurku ke tengah-tengah ruangan.’ Salma memindahkannya, lalu dia berbaring menghadap kiblat. Kemudian Fatimah berkata kepada Salma, ‘Ibu, aku akan menemui ajal sekarang. Aku telah mandi, jadi jangan biarkan orang lain membuka bahuku.’ Salma bercerita, ‘Fatimah telah wafat.

Kemudian Ali datang dan aku mengabarkan hal itu kepadanya.’ Ali ra. berkata, ‘Demi Allah, tidak seorang pun yang akan membuka bahunya.’ Dia mengangkat jenazah Fatimah dan menguburkannya dengan mandi itu. []

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Putri-Putri Rasulullah (3): Ummu Kultsum

Jamie Punya Tujuan Hidup Setelah Masuk Islam