Rindu Bapak

0

Oleh: Sofi Fauziah Arrystro

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan”

Tiap mencet nomer Bapak, sang operator selalu bilang begitu. Walau kadang nomer itu aktif karena sesekali dipegang Ibu. Hmm.. Tapi kalau dipikir2 betul juga yang dibilang mbak operator, Bapak sekarang sudah diluar jangkauan. Kenyataannya sinyal HP tidak mampu menembus alam yg berbeda.

Selain keisengan nelpon ke nomer itu, inbox sms pun jadi sasaran pengobat rindu.
“Baru apa, mbak?”
“Dah makan, mbak?”
Hehe Bapak memang sangat perhatian. Apalagi kalau pas mas tugas di site, perhatian & khawatirnya lebih2 lagi. Bisa sampai tiap hari telpon & sms.

Sampailah di deretan sms terakhir,
“Alhamdulillah dah mulai enakan, mbak”
Sms itu dikirim Bapak tepat seminggu sebelum pada akhirnya beliau masuk ICCU dan Allah memanggil-Nya.

Beliau memanglah bukan bapak kandungku, tapi tak pernah juga aku menganggapnya sebagai bapak mertua. Begitupun Bapak, selalu cepat2 meralat kalau ada orang yg menyebutku menantunya, “iki nak wedho”. Memang sebutan “mertua” dan “menantu” terkadang menjadi batas penghalang terikatnya hubungan psikologis. Mertua adalah orangtua!

Bagiku, beliau seolah2 menjadi sosok yg Allah kirimkan setelah kepergian alm Bapak (kandung) sewaktu masih duduk di kelas 2 SMA. Beliau tidak hanya menjadi sosok bapak bagiku, tapi juga untuk saudara2ku. Pribadinya yg ramah, supel & mudah akrab, membuatnya mudah mencair dengan adik2 & kakak2ku.

Ah, Bapak. Memang tak pernah aku pasang status / fotomu di profile picture bb atau whats app, tapi sungguh, anakmu ini rindu. Dua bulan sudah kepergianmu, tapi rasanya engkau masih ada di tengah2 kami.

Kehilangan itu semakin terasa setiap kami pulang ke Wates. Biasanya, beliau akan selalu siap menjemput di stasiun saat kereta tiba dini hari. Tak peduli ngantuk atau capek. Bahkan kalaupun harus sampai jemput ke Kutoarjo yang perjalanannya sejam dari rumah. Hingga akhirnya kami selalu pulang diam2 tanpa info supaya tidak merepotkan beliau.

Beliau adalah pribadi yg gesit. Profesinya dulu sebagai protokoler menjadikannya pribadi yg hampir tidak bisa diam. Tak jarang, beliau selalu ikut2an sibuk ngatur kala hadir di akad nikahan orang lain hehe. Tak pernah berlambat2 saat diminta tolong orang lain. Senang menjamu tamu, menyambung silaturahim, bahkan nama2 di fonbuk hapenya ditelpon satu persatu hanya untuk bertanya kabar. Tak pernah pelit untuk berbagi, hingga disaat2 terakhirnya pun fakir miskin & yatim piatu lah yg beliau khawatirkan.

Bapak.. Bersyukur aku pernah mengenal pribadimu, menjadi bagian dari hidupmu, meski hanya dalam waktu yang singkat. Sungguh bahagianya engkau, lisanmu tak lepas menyebut asma-Nya saat menjelang sakaratul maut. Sungguh beruntungnya engkau, begitu banyak orang yg menghadiri pemakaman & mendo’akanmu.

Allah.. Aku bersaksi bahwa beliau adalah orang yg baik. Pertemukan beliau dgn alm Bapak di jannah-Mu, sebagaimana dulu beliau pernah berkeinginan untuk ziarah ke makam besannya.

Titip rindu untuk mereka, kedua Bapak kami. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline