Sahur dan Punggung Ayah

0

 

, Sahur dan Punggung AyahOleh: Khadijah Fauziyah

Ramadhan kembali menyapaku. Hadir bersama seuntai kerinduan tentang lengkapnya anggota keluarga. Tentang semua cita-cita yang kami rangkai bersama. Tentang cerita yang selalu mengalir di sela menyantap sahur dan bergembira menyambut waktu buka puasa. Semuanya ku rindukan, Karena semakin lama rumah kami semakin sepi. Kakak perempuanku ikut bersama suaminya masing-masing.

Aku ingat satu hal yang paling indah di dalamnya, dan paling ku rindukan kehadirannya. Sahur bersama seluruh anggota keluargaku yang lengkap. Dua orangtuaku dan kelima kakak perempuan yang tak pernah habis ceritanya, semuanya cerewet dan tidak ada yang bisa diam. Walaupun hari masih dini tapi rumah kami akan selalu ramai dengan berbagai cerita yang kami miliki.

Saat itu aku masih berumur 5 tahun dan telah memasuki bangku SD tanpa mengenyam TK terlebih dahulu. Yah.. hanya sekedar pengajaran dasar perhitungan dan membaca yang diajarkan kakak kedua ku aku berbekal masuk Sekolah Dasar. Karena itu juga aku diminta untuk belajar shaum walaupun hanya sampai waktu dzuhur. Pembiasaan kata emakku, aku memanggil ibuku dengan panggilan emak. Lebih terasa dekat dan terasa sayang yang kental sekali di dalamnya.

Aku paling dekat dengan ayah katanya, karena aku anak terakhir dari 6 bersaudara. Jadi ibuku sudah cukup kelelahan mengasuhku. Sehingga saat malam hari terbangun, ayah yang mengurus segala sesuatunya kecuali jika perutku lapar. Tak mungkin seorang ayah menyusui anaknya.

Jam menunjukkan pkl. 03.30 tapi aku masih belum terbangun juga, padahal waktu imsak sebentar lagi akan terlewati. Aku masih ingat saat ayah dengan lembutnya membangunkanku, lalu menggendongku ke kamar mandi dan mengusap wajahku agar terbangun. Aku makan dengan mata terpejam, sambil menggerutu kesal karena dibangunkan sepagi ini.

Alangkah penyayangnya kedua orang tuaku. Keduanya mengajarkanku sedini mungkin untuk melaksanakan shaum, dan sebisa mungkin membiasakanku terbangun di waktu dini hari dengan cara apapun. Aku selalu ingat ayah yang keras saat bekerja menguras tenaga di siang hari, dengan lembutnya memperlakukanku di rumah. Aku beruntung mempunyai ayah seperti beliau. Aku rindu punggungnya yang hangat, dan aku rindu belaian ibu saat aku menumpahkan segala rasaku di pangkuannya. []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.