Self Advice

0

, Self Advice

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Idul Adha kali ini sangat berbeda. Tentu saja. Saya mampu mendapati diri saya berada di rumah orang tua saat lebaran qurban. Dua tahun ke belakang qurban full di Jakarta yang tentu saja tanpa dapat pulang ke rumah.

Yang menarik dari idul adha kali ini bukan pada prosesi memotong atau memasak dagingnya. Bukan. Karena malangnya saya pun tidak berkesempatan mendapatinya lantaran sudah harus berangkat Jakarta kembali. Yang menarik yakni perbincangan sederhana antara saya dan kedua adik saya.

Usai solat Id, saya berbincang kecil dengan mereka berdua. “Dek, coba kita saling menasihati yuk sekarang. Tapi bukan Kak Revy nasihatin adek. Kak Revy nasihatin kakak sendiri, adek nasihatin diri adek sendiri,” ucap saya mengawai pembicaraan.

Saya menyodorkan Ahya, adik yang lebih besar, untuk terlebih dahulu memulai. Namun, setelah beberapa detik menunggu, urung dia berucap. Maka dari itu, langsung saya ambil alih. “Baiklah. Kakak dulu yang memulai.” kata saya. “Revy yang baik, jadilah kamu pribadi yang jujur. Jangan boros-boros. Terus rajin ya menulisnya setiap hari, jangan surut semangat. Ibadah dan hapalanmu diperkuat.” Saya terdiam. “Nah, gantian sekarang Ahya. Nanti dik Bita dapat giliran juga. Oya, jangan lupa awali dengan sapaan kita yang baik-baik ya kayak kakak tadi,”

Suasana paska solat Ied masih terasa sangat lembut dan hangat. Lalu Ahya mulai angkat bicara. “Lah, kalau adek pasti banyak banget, haha,, Ahya yang kata orang pintar..” Ahya agak ragu mengucapkannya. “Eh, kenapa kata orang? Langsung saja, Ahya yang pintar,” saya menimpali.

Lalu Ahya mengulang kalimatnya, kali ini tegas. “Ahya yang pintar, jadi anak yang solih ya. Semoga kamu bisa hemat. Semoga bisa mengurangi kesukaan yang berlebih terhadap K-Pop. Semoga bisa vakum dari HP-an melulu. Terus, kamu jangan suka beli-beli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Kalau mau beli-beli pikir-pikir dahulu. Kamu juga rajin menabung. Jadi dokter besok yang baik, menolong siapa saja tanpa pandang bulu. Rajin-rajinlah bantu mama-papa, sayang adik Bita dan kakak-kakak,” Ahya berhenti berucap. Ada linangan air mata di sudut matanya.

Masya Allah, hanya itu yang terucap dari diri usai mendengar penuturan Ahyaku.

Lepas itu, Bita mendapati gilirannya. Agak malu-malu juga si kecil mengutarakan apa yang menjadi nasihatnya untuk dirinya. “Bita yang cantik,” katanya memulai. “Jangan boros-boros ya. Jangan ciwek (cengeng-red), jangan juga ngeyel (membantah-red) mama. Kalau disuruh mama harus mau.” Singkat memang. Tapi, ada juga linangan di sudut matanya yang kecil.

Subhanallah, saya membatin. Saya memandangi dua bidadari kecilku ini. Ya, saya mendapati pelajaran sangat berharga dari mereka. Sangat berharga.

Seringkali kita merasa menjadi pihak yang paling berhak untuk menasihati orang lain, dalam hal ini anak. Seringkali tanpa tedeng aling-aling kita melabrak anak atas hal-hal yang di mata kita salah. Bukannya tidak boleh. Menasihati menjadi bukti peduli. Menasihati bahkan digariskan adanya di sebuah surat pendek namun kaya makna, Al ‘Asr.

Namun ada kalanya sesekali kita perlu melihat dari pandang anak secara langsung. Saya pun tidak menyangka adik saya memberikan pembuktian itu. Mereka yang masih belia justru mampu menafsiri laku dan diri mereka sendiri. Mereka mampu menangkap apa yang menjadi kurang sekaligus harap mereka. Lebih baiknya lagi, mereka mampu mengetahui bahwa ada beberapa dari hal yang mereka lakukan memang tidak baik dan ingin mereka perbaiki. Subhanallah.

Ya, mempercayakan anak untuk memberikan nasihat pada dirinya bisa menjadi jalan untuk mendewasakan mereka. Mendengar apa-apa yang mereka katakan justru memberi kita perspektif jujur atas diri mereka. Kita tak perlu berbicara hingga berbusa untuk menyadarkan mereka. Biarlah mereka yang dari hati memberikan self advice bagi diri mereka sendiri.

Wallahu a’lam. []

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline