Seorang Mahasiwi dan Kawin Mut’ah (2)

0

, Seorang Mahasiwi dan Kawin Mut’ah (2)

Pada tahun 1990 bertepatan dengan 1411 Hijriah majalah ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, menurunkan sebuah kisah berjudul “Pasien Terakhir“. Tulisan berjumlah tiga lembar ini menuturkan kisah seorang mahasisiwi Syiah di Bandung yang mengidap penyakit seksual akibat kebiasaan nikah mut’ah.

Hal itu terungkap dari kecurigaan seorang Dokter bernama Hanung menangani sang korban. Awalnya sang dokter merasa heran ketika seorang mahasiswi yang lebih cocok dipanggil ukhti itu, mengeluh merasa sakit di sekitar (maaf) alat kelaminnya. Usut punya usut ternyata hal itu terkait dengan sebuah pengajian.

Apa hubungannya penyakit kelamin dengan pengajian? Rupanya ukhti tersebut telah akrab mengikuti pengajian aliran Syiah yang memang mengiming-imingi pahala dengan nikah mut’ah. Ia pun bergonta-ganti bersama pasangan-pasangan Syi’i lainnya lengkap dengan titah bahwa mut’ah tidak bertabrakan dengan agama. Abu Abdullah berkata, “menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan.”. Begitu bunyi ayat di Al Kafi, sebuah kitab panutan aliran Syiah.

Kisah ukhti berkerudung lebar ini pun sempat dilaporkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) kepada Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur. Semoga kejadian yang menimpa wanita berkerudung lebar tersebut bisa menjadi ibrah bagi kita. Jangan melihat Syiah dari janji manisnya, tapi selami ajarannya.

Untuk tidak berpanjang kalam, berikut kami tampilkan kisah lengkapnya. Selamat membaca.

***

Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka di kakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Di sebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Di pojok ruang, terdapat sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat dan bercadar. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter.

Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin seorang wanita berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexksual.

Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

+ “Saudari masih kuliah?”

– “Masih dok.”

+ “Semester berapa?”

– “Semester tujuh dok.”

+ “Fakultasnya?”

– “Sospol”

+ “Jurusan komunikasi massa ya?”

Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

– “Kok dokter tahu?”

+ “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”

Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu

+ “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?”

Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

– “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”

+ “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita.”

Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

– “Saya dari Pekalongan.”

+ “Kost-nya?”

– “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63.”

+ “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa?”

– “Ya,..kadang-kadang Dok.”

+ “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.- “Bang Jalal siapa?” Tanyanya dengan nada agak tinggi.

+ “Tentu saja Jalaluddin Rachmat, Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin.”

– “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut.”

+ “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

BERSAMBUNG

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline