Sepuluh Wanita di Zaman Rasul

0

, Sepuluh Wanita di Zaman Rasul

Dalam kitab hadits Al-Lu’lu’ Wal Marjan pada hadits ke 1590 yang dinukil dari kitab shahih Imam Bukhari pada Kitab Nikah Bab Mempergauli Istri dengan Baik, disebutkan perihal perkumpulan sekelompok istri yang telah bersepakat membicarakan keadaan pasangannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah, ia bercerita, “Pada suatu hari sedang berkumpul sebelas orang wanita. Mereka sedang duduk-duduk santai. Mereka saling sepakat dan berjanji untuk mengungkap keadaan suami mereka.

Wanita pertama mengatakan, “Suamiku adalah ibarat daging tipis yang berada di puncak sebuah gunung yang tinggi sehingga tidak mudah untuk didaki. Ia tidak gemuk sehingga bisa dipindah-pindah.”

Wanita kedua mengatakan, “Maaf aku terpaksa tidak bisa menuturkan secara rinci mengenai keadaan suamiku. Aku khawatir tidak bisa melakukan hal itu. jika sampai aku lakukan, sama halnya aku mengungkapkan aibnya.”

Wanita ketiga mengatakan, “Suamiku berpostur tinggi. Jika aku katakan hal itu terus kepadanya, ia akan menceraikan aku. Dan jika aku diamkan saja, ia pun akan meninggalkan aku.

Wanita keempat mengatakan, “Suamiku laksana cuaca di wilayah Tihamah, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, tidak menakutkan dan juga tidak membosankan.”

Wanita kelima mengatakan, “Jika suamiku sudah masuk rumah, ia langsung tertidur nyenyak. Tetapi jika keluar rumah, ia laksana seekor singa. Dan ia tidak pernah menanyakan sesuatu apa pun yang bukan termasuk urusannya.”

Wanita keenam mengatakan, “Jika suamiku sedang makan, semua makanan akan dihabiskannya. Jika sedang minum, semua minuman pun akan diteguknya. Dan jika tiduran, ia selalu memakai kain selimut. Namu ia enggan memasukkan telapak tangannya karena takut diketahui kesusahannya.”

Wanita ketujuh mengatkan, “Suamiku adalah orang yang lemah syahwat dan gagap bicaranya, meski berbagai obat telah dicobanya untuk menyembuhkannya di samping itu ia adalah orang yang mudah melayangkan tangannya.”

Wanita kedelapan mengatakan, “Suamiku memiliki aroma khas seperti aroma zarnab, dan sentuhannya selembut sentuhan seekor kelinci.”

Wanita kesembilan mengatakan, “Suamiku punya kedudukan tinggi, berpostur tinggi, sangat dermawan, suka menjamu tamu, dan rumahnya dekat sekali dengan balai pertemuan.”

Wanita kesepuluh mengatakan, “Suamiku memiliki banyak unta, sebagian besar dibiarkan menderum di halaman rumah, dan yang sedang bunting baru beberapa ekor saja. Jika unta-unta tersebut mendengar suara kecapi, mereka merasa bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih.” []

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline