Siapa Teladan Pertama untuk Anak?

0

, Siapa Teladan Pertama untuk Anak?Siapa teladan pertama dalam kehidupan seorang anak? Jawabannya pasti seorang ibu. Ibu merupakan sosok pertama yang mendampingi kehidupan awal anak selama 24 jam, sehingga tak heran, seorang ibu mempunyai proses pembentukan keteladanan yang utuh untuk anak.

Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan, para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar daripada pengaruh ucapan. [Lihat Al-Mu’in ‘ala Tahshili Adabil ‘Ilmi, hlm. 50 dan Ma’alim fi Thariqi Thalabil ‘Ilmi, hlm. 124]

Hal ini, disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan. [Lihat keterangan Syekh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsir beliau, hlm. 271]

Oleh karena itulah, dalam banyak ayat Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah-kisah para nabi ‘alaihimus salam yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk meneguhkan hati Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengambil teladan yang baik dari mereka [Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/611]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك، وجاءك في هذه الحق وموعظة وذكرى للمؤمنين

“Dan semua kisah para rasul, yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Syekh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, berkata, “Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu. Inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’.” [Kitab Hirasatul Fadhilah, hlm. 127–128]

Sehubungan dengan hal ini, Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibrahim Al-Harbi [Beliau adalah imam besar, penghapal hadits, Syekhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir Al-Baghdadi Al-Harbi (wafat pada 285 H). Biografi beliau terdapat dalam Siyaru A’lamin Nubala’: 13/356]. Dari Muqatil bin Muhammad Al-’Ataki, beliau berkata, “Aku pernah hadir, bersama ayah dan saudaraku, menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka) beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” [Kitab Shifatush Shafwah: 2/409]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.