Sikap Kita Terhadap Feminisme

0

 

, Sikap Kita Terhadap FeminismeAturan yang dibawa Islam telah mengangkat martabat perempuan, menetapkan kewajiban dan hak juga memberikan kesempatan untuk maju dan berkarya. Sementara kaum feminis mengusung tuntutan persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam pergaulan masyarakat. Sehingga, keadaan biologis dan cara reproduktiflah yang bisa membedakan keduanya.

Kewajiban kita sebagai umat Islam untuk menimbang kembali pemikiran-pemikiran yang digaungkan oleh tokoh feminisme Barat berdasakan neraca syar’i. Selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, kita sambut dengan tangan terbuka.

Namun jika pemikiran yang dikampanyekan itu menyimpang dari prisip Islam, seperti pemikiran yang diusung oleh feminisme sosialis yang berjuang untuk menghapuskan sistem lembaga perkawinan yang dianggap melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri. Pemahaman seperti inilah yang harus kita saring sebagai pemikiran feminisme salah kaprah yang cuma terfokus menatap ikatan perkawinan sebagai royalti berdasarkan materi saja.

Muhammad Imarah dalam bukunya at-Tahrir Al-islami li al-Mar’ah menjelaskan bahwa perkawinan bukanlah hubungan yang mempertemukan sifat diktator suami terhadap istrinya, namun perkawinan adalah hubungan saling memberi dan menerima. Dalam hal ini Allah menegaskan: “Dan mereka( para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut”. Rasulullah Saw. telah berpesan pada haji Wada: “Sesungguhnya kamu mempunyai hak terhadap istrimu, begitupun sebaliknya, istrimu mempunyai hak atas kamu, maka pergaulilah mereka dengan baik.”

Simaklah jawaban Aisyah Ra. ketika ditanya tentang kegiatan Rasulullah Saw. di rumah. Aisyah ra menjawab: “Beliau menjahit bajunya sendiri dan mengurus dirinya sendiri.” Subhanallah…Inilah potret seorang panglima Islam, pembawa risalah, manusia pilihan, kekasih Allah dalam kehidupan rumah tangganya. Bukti-bukti ini telah mementahkan tuduhan negatif yang mencap bahwa Islam telah membangun sebuah penjara kediktatoran bagi perempuan denagan nama perkawinan. [isnarni/bulletin menara]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.