Suami Bisa Masak? Hebat Itu!

, Suami Bisa Masak? Hebat Itu!
Lazimnya, dalam rumah tangga, istri yang mengatur urusan rumah, suami mencari nafkah. Bagaimana ternyata jika suami pintar dan atau bisa masak?

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan definisi nafaqah sebagai mencukupi segala kebutuhan istri yang mencakup makanan, tempat tinggal, pelayanan dan obat-obatan, meskipun dia orang kaya. Hukum memberikan nafkah adalah wajib berdasarkan Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

Dalam kaidah ushul fiqh  dari kitab Syaikh Utsaimin Al Ushul min ‘Ilmil Ushul didapati sebuah kaidah, bahwa bila sesuatu yang terhukumi wajib tidak akan sempurna jika tidak ada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu terhukumi wajib juga. Maa laa yatimmu al waajibu illaa bihi fa huwa waajib atau dalam  kaidah yang lebih umum Al wasa’ilu laha ahkamul maqhosid. Sarana itu mempunyai hukum yang sama dengan tujuan. Jadi bila memberikan nafaqah kepada istri adalah sebuah bentuk kewajiban. Dan memberikan makanan kepada istri adalah bentuk nafkah juga yang berarti terhukumi sebagai kewajiban.

Nah masalahnya, makanan tidak akan ada bila tidak melalui proses pengolahan atau pemasakan. Tidak mungkin kan, seorang istri diberikan beras lalu dia memakannya? Tentulah beras tersebut harus diolah terlebih dahulu menjadi nasi, dan  makan nasi tanpa lauk pauk dan sayur juga rasanya aneh, maka perlu juga mengolah sayur dan lauk-pauk sebagai teman nasi. Barulah nasi tadi di santap oleh istri . Kalau demikian memberikan makan kepada istri atau pemberian nafkah tadi yang merupakan kewajiban itu, menjadi belum sempurna bila tidak dibarengi oleh kemampuan mengolah masakan.

Padahal dalam kaidah ushul fiqh dijelaskan bahwa sesuatu yang wajib namun tidak akan sempurna bila tidak adanya sesuatu yang lain dan menjadikan sesuatu yang lain itu wajib terhukumi wajib juga. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang suami wajib memiliki kemampuan untuk memasak juga, untuk menyempurnakan kewajibannnya menafkahi istri. Tapi tenang, setiap yang wajib pasti ada rukhshah.Setiap yang wajib pasti ada keringanan untuk menjalaninya. Dan Allah tidak menghendaki kesukaran justru menghendaki kemudahan bagi hamba-hambaNya, Allah pun tidak akan membebani hamba melebihi kemampuannya. Jadi asalkan sudah terniati insya Allah sudah berpahala, selanjutnya akan lebih romantis ketika suami dan istri saling belajar bersama untuk memasak.

Tetapi, bagi para suami, tentu saja, Anda bisa memasak untuk mengantisipasi jika suatu kali istri sakit dan berhalangan, maka Anda bisa menggantikan tugas di dapur. Bagaimana? [Sumber: fimadani]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.