Suami Teladan (2 – Habis)

, Suami Teladan (2 – Habis)

Imam Bukhari r.a. meriwayatkan bahwa Abu Juhaifah r.a. berkata: “Nabi Saw mempersaudarakan Salman r.a. dan Abu Darda r.a. ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Ia melihat ummu Darda` dengan pakaian yang lusuh. Salman berkata kepadanya: “Apa yang terjadi dengan kamu?” Ia berkata: Saudaramu Abu Darda` tidak mempunyai hajat sedikitpun kepada dunia. Tiba-tiba datang Abu Darda` menyuguhkan makanan seraya berkata: “Makanlah, saya sedang puasa.” Salman berkata: “Saya tidak akan makan sampai kamu juga makan.” Akhirnya Abu Darda` ikut makan. Ketika malam tiba, Abu Darda` bangun untuk beribadah. Salman berkata: “Tidurlah!” maka tidurlah ia. Kemudian ia bangun lagi. Salman berkata lagi: “Tidurlah!” ketika tiba penghujung malam Salman berkata: “Nah sekarang bangunlah!” kemudian mereka shalat. Setelah itu Salman berkata: “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atas kamu, dirimu mempunyai hak, keluargamu mempunyai hak, maka berilah hak itu kepada yang berhak.” Mereka datang kepada Rasulullah dan menceritakan hal itu. Rasulullah saw berkata: “Apa yang dikatakan Salman benar.”

Dengan kasih sayang, muslim senantiasa berusaha untuk menyejukkan suasana kehidupan yang gersang bersama istri, menghiasi semua sisi kehidupan dengan cumbuan mesra dan senda gurau yang menyenangkan. Ia melakukan itu semua setiap saat dengan mencontoh Rasulullah Saw sebagai panutan. Dalam kehidupan, Rasulullah Saw telah mengurusi urusan agama, membentuk umat yang muslim, membimbing pimpinan jihad dan lain sebagainya, yang semuanya itu merupakan pekerjaan berat. Tetapi, semua itu tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi suami teladan bagi istri-istrinya. Beliau selalu bergaul dengan mereka dengan baik. Dengan budi luhur, muka berseri-seri, cumbuan yang lembut dan menyenangkan.

Aisyah r.a meriwayatkan, saya datang kepada Rasulullah Saw membawa harirah (makanan terbuat dari tepung dan susu) untuk beliau. Saya berkata kepada Saudah r.a dan Nabi saw berada di antara saya dan dia: “Makanlah” tetapi ia tidak mau. Saya berkata kepadanya: “Makanlah” atau saya taburkan kewajahmu.” Ia tetap tidak mau, saya memasukkan tangan dalam makanan itu seraya berkata, “Taburkan juga kewajahnya.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Nabi merendahkan lututnya agar Saudah bisa menunduk, ia mengambil sesuatu dari shuhfah dan ia usapkan kewajahku, dan Rasulullah Saw tertawa” (Kitab al-Haitsami 4/316, al-Muntakhab 4/393, Kanzu al-Amal 7/302). Al-Haitsami berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya`la, sanadnya shahih, kecuali Muhammad ibn Amr ibn al-Qamah. Hadis ini hadis hasan”

Diriwayatkan oleh Siti Aisyah r.a bahwa suatu hari ia bersama Rasulullah Saw dalam sebuah perjalanan. Ia beradu lari dengan Rasulullah Saw dan ia mendahului Rasulullah Saw. Ketika badannya sudah gemuk, ia beradu lari lagi dengan beliau dan Rasulullah saw mendahuluinya seraya berkata, “kemenangan ini untuk kekalahanku yang dahulu.” (H.R. Ahmad Abu Daud).

Dengan lapang dada Rasulullah Saw berusaha menambah kegembiraan di hati istrinya tercinta yang masih muda. Beliau mengajak untuk melihat hiburan yang menyenangkan hatinya. Siti Aisyah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw sedang duduk, tiba-tiba beliau mendengar hiruk pikuk manusia dan anak kecil. Ternyata seekor unta yang sangat hitam sedang menari dikelilingi orang-orang. Rasulullah Saw berkata: “Wahai Aisyah, datanglah kesini dan lihatlah”, kemudian aku meletakkan pipiku diatas pundaknya dan melihat apa yang ada di antara kedua pundak sampai kepalanya. Kemudian beliau berkata: “Belum puaskah engkau?” saya berkata: “belum”, saya ingin melihat reaksi beliau. Saya melihat beliau menggoyangkan kedua kakinya (an-Nasai melalui Yazid ibn Ruman dari Aisyah, lihat riwayat yang lain dalam kitab Fathul Bari bab al-`Iedain). Dalam riwayat lain, Aisyah r.a berkata: “Demi Allah saya melihat Nabi Saw berdiri di depan pintu kamarku, orang-orang habsi bermain hirab (semacam tombak) dalam masjid dan Rasulullah Saw menghalangiku melihat permainan mereka dengan selendangnya”. (H.R. Bukhari-Muslim)

Kaum muslimin yang mengetahui bagaimana Rasulullah hidup dengan istri-istrinya dengan pergaulan yang baik, bersenda gurau penuh keakraban, mau tidak mau ia juga akan bergaul dengan baik dengan istrinya. Ia akan bersikap lemah lembut, berbudi luhur, dan lapang dada selama keakraban tersebut masih dalam batas-batas kesenangan yang diperbolehkan.

Muslim yang bijaksana tidak akan terpancing emosi hanya karena hal-hal sepele, yang biasanya membuat suami yang bodoh menjadi marah. Misalnya masakan istri tidak sesuai dengan selera, atau hidangan terlambat dari waktu yang telah ditentukan, dan sebab-sebab lain yang banyak menyebabkan perselisihan dan keretakan hubungan suami istri.

Rasulullah Saw tidak pernah menghina makanan sama sekali. Apabila beliau berselera, beliau makan. Kalau tidak, beliau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah Saw bertanya lauk pauk kepada keluarganya, mereka berkata: “Kami tidak mempunyai apa-apa selain cuka” beliau meminta cuka itu dan makan, seraya berkata: “Alangkah nikmatnya lauk cuka ini, alangkah nikmatnya.” (H.R. Muslim)
Dengarkanlah wahai suami yang sering mengecap jelek istrinya karena kekurangan yang ia miliki. Atau karena hidangan terlambat dari waktu yang ditentukan atau tidak sesuai dengan selera. Banyak hal yang menyebabkan seorang istri melakukan kesalahan-kesalahan itu, tetapi sebagai suami tidak seharusnya langsung marah sebelum mengetahui sebab-sebab tersebut. Bukankah laki-laki itu pemimpin bagi wanita?

Muslim yang bijaksana tidak hanya berbuat baik kepada istrinya. Tetapi juga kepada teman-teman wanita istrinya seperti yang dilakukan Rasulullah Saw Aisyah r.a berkata: “Suatu hari datang seorang wanita yang sudah tua kepada Nabi Saw beliau menyambut dengan baik dan menghormati seraya berkata: “apa kabar, bagaimana keadaanmu?” wanita itu menjawab: “baik-baik saja, wahai Rasulullah.” Ketika wanita itu keluar, Aisyah berkata: “engkau menyambut orang tua itu dengan penyambutan seperti ini? sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan kepada orang lain” Nabi Saw menjawab: “ ia pernah datang kepada kami dirumah Khadijah, tidak tahukah kamu bahwa keramahan itu sebahagian dari iman?” (H.R. Al-Hakim)

Kadangkala seorang istri marah dan terpancing emosi karena suatu sebab. Sehingga ia menjauhi suami, menampakkan kemarahan, dan emosi kepadanya. Dalam hal seperti ini, seorang suami hendaknya menanggapi dengan sikap yang baik, penuh kesabaran dan pengertian mendalam tentang hakikat seorang wanita beserta sifat-sifatnya. Seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Saw terhadap istri-istrinya ketika mereka marah dan mendiamkan beliau.

Umar r.a berkata: “kami bangsa Quraisy, kaum yang berkuasa atas wanita. Ketika kami datang ke Madinah, kami menemukan suatu kaum yang kalah pada wanita. Mulailah istri-istri kami belajar dari wanita-wanita mereka. Rumahku berada di Bani Umayyah ibn Zaid. Suatu hari istriku marah dan menolakku untuk menggaulinya. Saya tidak mau dia menolak.” Ia berkata: “mengapa kamu tidak mau kalau aku menolakmu, demi Allah! sungguh istri-istri Nabi Saw penah menolak beliau, dan seorang diantara mereka mendiamkan beliau pada hari itu sampai malam.” Umar berkata: “kemudian aku berangkat kerumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu pernah menolak Rasulullah Saw?” Dia berkata: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Dan pernahkah seorang diantara kalian mendiamkannya pada hari itu sampai malam?” dia menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Sungguh telah merugi orang yang telah melakukan itu. Apakah ada di antara kalian yang merasa aman dari amarah Allah dengan kemarahan RasulNya? Sesungguhnya ia telah celaka, jangan menolak Rasulullah, jangan kamu bertanya sesuatu kepadanya, tanyakanlah kepadanya apa yang menjadi masalahmu?” (H.R. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa`i). Setelah itu Umar r.a menghadap Rasulullah Saw, dan menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Hafshah, Rasullullah Saw hanya tersenyum.

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk menghiasi dirinya dengan perilaku luhur seperti itu. Agar ia bisa mencontoh semua perilaku dan sifat-sifat Rasulullah Saw. Dengan demikian ia telah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cocok untuk kehidupan sosial yang berkembang. Kesengsaraan, perselisihan, kegoncangan dan kegelisahan yang terjadi pada individu, keluarga dan masyarakat adalah karena jauhnya mereka dari nilai-nilai luhur yang telah dibawa Islam. Juga karena kebodohan dan kesalah fahaman mereka terhadap nilai-nilai yang sangat berharga itu. Apabila setiap suami mampu menghiasi dirinya dengan perilaku seperti itu, niscaya kehidupan keluarga akan terbebas dari perselisihan dan perpecahan. Rumah mereka akan dipenuhi dengan kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman. []

HABIS

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.