in

Surat Terbuka untuk Gubernur DKI Agar Tak Bicara Kasar dan Kotor

Foto: tempo
Foto: tempo
Foto: tempo

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama  alias Ahok terus menjadi sorotan. Gaya bicaranya yang blak-blakan dan berkata-kata kotor dinilai tidak pantas karena sedang disaksikan banyak pasang mata, termasuk anak-anak di bawah umur. Pernyataan kasar Ahok itu keluar saat diwawancarai wartawan Kompas TV.

Meski sang pembawa acara telah mengingatkan bahwa acara tersebut disiarkan secara langsung, namun Ahok tak menggubrisnya.

Menanggapi gaya bahasa yang kasar itu,  Ketua Komisi I DPR Mahfudz Shiddiq mengirimkan surat terbuka untuk Ahok. Berikut petikannya.

Surat Terbuka kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

Pak Gubernur Yth.

Perkenalkan, saya adalah seorang warga Jakarta. Saya lahir dan besar di Jakarta, begitupun orangtua dan kakek-nenek saya. Selama hampir 50 tahun saya ikuti kiprah para gubernurnya dan ikut peduli membangun daerah ini.

Sebagai warga saya punya harapan besar setiap Gubernur DKI Jakarta menjadi pemimpin yang sukses, dan menjadi kebanggaan serta panutan semua warganya.

Namun, Saya sangat terusik ketika seringkali menyaksikan Bapak di televisi tampil bicara dengan menggunakan bahasa yang sangat tidak santun dan bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor.

Bapak sebagai gubernur menggunakan kosa kata yang sering saya dengar saat anak-anak sedang bertengkar dan saling mengumpat.

Pada awalnya saya coba memahami mungkin Bapak sedang marah dan kesal. Namun, perilaku ini sering berulang dan semakin hari kata-kata yang Bapak gunakan semakin kasar dan kotor.

Pak Gubernur, puncak kegundahan dan kekecewaan saya muncul saat menyaksikan wawancara Bapak pada salah satu stasiun TV. Meski di awal pembawa acara sudah mengingatkan Bapak bahwa acara tersebut disiarkan langsung, ternyata lagi-lagi kosa kata kasar dan kotor keluar dari mulut Bapak, Sang Gubernur DKI Jakarta.

Ibu saya yang sudah sepuh ikut menonton siaran itu tak henti beristigfar. Saya tidak tahu apa reaksi jutaan warga masyarakat yang ikut menonton, bukan hanya di Jakarta tapi di seluruh Indonesia.

Pak Gubernur Yth.

Apakah Bapak tidak menyadari bahwa sekian juta masyarakat Indonesia menyaksikan acara tersebut? Apakah Bapak tidak mengingat bahwa sosok gubernur adalah seorang yang dijadikan panutan oleh masyarakat Jakarta? Termasuk sekian banyak anak-anak dan remaja yang butuh pembelajaran dan keteladanan yang baik?

Pak Gubernur Yth.

Bangsa kita saat ini, terutama generasi mudanya sedang mengalami krisis moral. Perilaku yang tidak lagi saling menghormati dan menyayangi sesama, perilaku saling memperolok dan menyakiti serta kebiasaan menggunakan kata-kata kasar dan kotor. Saya meyakini untuk memperbaiki kondisi ini kita harus memberikan contoh dan teladan baik, khususnya dari para pemimpinnya.

Apa jadinya jika anak-anak, remaja dan generasi muda kita melihat bahwa pemimpinnya sendiri berbicara dengan tutur kata yang tidak sopan dan bahkan tidak segan mengeluarkan makian kasar di depan umum.

Saya sangat menghormati Anda Pak Gubernur sebagai pimpinan masyarakat Jakarta. Saya akan dukung penuh program nyata Bapak yang baik. Saya juga dukung penuh jika Bapak ingin membersihkan praktek curang dan korup. Namun sekali lagi lakukan itu dengan cara yang baik.

Terakhir Pak Gubernur. Kebetulan pekerjaan saya mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak tokoh dan pemimpin di berbagai negara. Ternyata mereka pun memberi perhatian terhadap berita-berita media menyangkut kiprah Bapak.

Dengan kerendahan hati saya berharap suara warga ini sampai dan Bapak mau dengarkan. ‘Sebaik-baik manusia adalah yang mau mendengarkan perkataan, dan mengikuti apa-apa yang baik.’

Salam hormat,

Mahfuz Sidik

Jl Mampang Prapatan Nomor 43 – Jakarta Selatan

[de/ip]

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Awas, Ada Dosa yang Terus Berbuah

Syarat Pakaian Muslimah (1)