Syukur; Kunci Jannah

0

 

cinta syukurOleh: Yudi Bachtiar

Pada suatu masa di masa lalu yang jauh, Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah memberikan pandangannya mengenai ibadah. Beliau membagai ibadah ke dalam tiga jenis. Ibadah jenis pertama adalah ibadah yang dilakukan oleh seseorang karena takut kepada azab Allah Swt., ini adalah ibadah para budak; kemudian jenis ibadah yang kedua adalah ibadah yang dilakukan seseorang karena menginginkan syurga Allah Swt., ini adalah ibadahnya para pedagang; selanjutnya adalah ibadah yang dilakukan oleh seseorang karena bersyukur kepada Allah Swt. atas segala karunia yang diterimanya. Dan di antara tiga jenis ibadah tersebut, menurut imam Ali, ibadah jenis yang ketiga adalah sebaik-baik ibadah seorang hamba kepada Rabbnya.

Dalam buku 1001 kisah teladan, terdapat sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah Swt. di puncak gunung selama 500 tahun lamanya.  Kemudian pada saat ia wafat dan setelah melewati beribu tahun di alam kubur dan padang mahsyar, tibalah waktu penghisaban.

Ketika dihisab, Allah Swt., memerintahkan malaikat Ridwan membukakan pintu syurga untuk hambanya tersebut, Allah Swt. berkata, “masuklah ke dalam syurgaKu dengan rahmatKu!”

Mendengar perkataan Allah Swt. tersebut, sang ahli ibadah itu pun tercekat, “duhai Allah, aku telah beribadah selama 500 tahun tiada henti kepadaMu, dan selama itu pula tidak sedikit pun aku berbuat maksiat kepadaMu, lantas mengapa Engkau memasukkan aku ke dalam syurga dengan rahmatMu, bukan karena amal ibadahku?”

Mendengar jawaban sang ahli ibadah tersebut, Allah Swt., memerintahkan malaikat untuk mengambil sebuah mizan (timbangan). Kemudian, pada sebelah timbangan Allah memerintahkan malaikat untuk meletakkan sebuah bola mata yang digunakan sang ahli ibadah waktu di dunia, lalu di sebelah timbangan lainnya Allah memerintahkan malaikat untuk menaruh seluruh pahala sang ahli ibadah tersebut selama 500 tahun. Dan hasilnya, ternyata nikmat sebelah mata yang Allah berikan kepada sang ahli ibadah tersebut masih lebih berat daripada ibadahnya selama 500 tahun. Sejurus kemudian, Allah pun memerintahkan malaikat zabaniah untuk menyeretnya ke dalam api neraka yang pekat.

Mengetahui kenyataan tersebut, sang ahli ibadah itu hanya bisa terdiam dengan tatapan mata nanar, menyadari bahwa anggapannya selama ini telah keliru. Ia pun menyesali perbuatannya. Melihat penyesalan hambanya itu, dengan rahmatNya, Allah memasukkan ia ke dalam Jannah.

Berasumsi kepada perkataan imam Ali dan kisah tersebut di atas, jelaslah bahwa seluruh pahala ibadah yang diperbuat oleh manusia selama berapa pun lamanya, takkan pernah cukup untuk membeli syurga Allah Swt., jangankan syurga, bahkan untuk membayar nikmat sebelah mata pun tidak akan pernah cukup. Betapa tidak? Karena selama manusia hidup, maka selama itu pulalah ia menerima berbagai kenikmatan dariNya; semakin lama hidupnya, semakin banyak pula nikmat yang didapatkannya. Jadi, hidup selama apa pun takkan pernah cukup untuk menjadikan kita ahli Jannah, karena Jannah hanya diberikan Allah kepada hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, beribadah karena bersyukur. []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline