Taaruf atau Pacaran Nih?

0

 

, Taaruf atau Pacaran Nih?Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masingmasing.

Demi Allah, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan/iblis. Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?

Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam. Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda “Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya,” (H.R. al-Bukhori: 1862, Muslim: 1338).

Barang siapa membantu seseorang yang berpacaran, membantu memenuhi keinginan mereka, membantu menyampaikan suratnya/pesannya pada pacar orang itu maka ia bisa disebut membantu perzinaan yang mereka lakukan. Dan barang siapa membantu perbuatan zina maka ia sama dengan pelaku zina tersebut. Oleh karena itu janganlah sekali-kali kalian membantu perbuatan mereka.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya,” (Q.S. Al-maidah : ayat 2).

Al-Hafizh Ibnu Hajar alAsqolaniy berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)

Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar  seorang wanita, seorang laki-laki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas bertelepon, bebas ber-SMS, bebas chatting, atau bebas bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut masih tetap belum halal baginya hingga berlangsungnya akad nikah. Begitu juga dengan pasangan yang baru sebatas berta’aruf / nadhor juga disebut ajnabiyyah dan ajnabi. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.