Tahun Baru dan Mama

, Tahun Baru dan Mama
Oleh: Anne Adzkia Andriani

Tiga tahun lalu, sekitar jam 7 malam saya berdiri dari lantai 2 (atau 3 ya) salah satu lobby gedung rawat inap RSHS Bandung, menatap gemerlap kembang api yang pecah di langit. Suaranya bising. Terbayang keriuhan dan sorak sorai orang-orang di bawah sana. Berbaris di deretan panjang kemacetan lalu lintas. Sambil meniup terompet.

Saya tetap berdiri, tanpa senyum. Di salah satu ruangan, Mama tengah terbaring, sudah 3 bulan lamanya. Ringkih, menyisakan tubuh pucat dan tanpa daging yg membungkus tulang. Tirus.

Riuh kembang api tak bisa membasuh sedih dan debaran harap yang terus meminta pada Ilahi Rabbi agar Mama disembuhkan.
Esoknya, tepat di hari pertama tahun 2011, di antara adzan Maghrib, Mama pergi meninggalkan kami. Wajah tirusnya seketika hilang, kulit pucatnya berubah bercahaya, senyum tersungging di bibirnya. Sehabis giginya kami bersihkan, Mama melepaskan tarikan nafasnya yang terakhir di hadapan kami.

Sebuah akhir yang indah. Entah, apakah saya kelak bisa mengakhiri masa di dunia dengan cara seindah itu. Di antara dzikir, dihiasi senyum, dan dinaungi cahaya.

Sejak saat itu, tahun baru selalu menjadi momen penting. Kejadian tiga tahun lalu seakan terputar ulang.

I miss u, Mama. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.