in

Tak Percaya Trinitas selama 15 Tahun, Fatima Nyatakan Jadi Muslimah (1)

fatima-268x300Sejak kecil Fatima dididik dengan agama Kristen katolik. Tapi, Alhamdulillah, waktu lahir ayahnya telah memberikan nama Fatima dan ibunya memberikan nama Maria.

Fatima memulai pendidikan dasarnya selama 9 tahun di Jerman. Setelah itu ia melanjutkan ke jenjang sekolah kesejahteraan keluarga yang diselesaikannya selama 2 tahun. Berbeda dengan siswa Sekolah Dasar lainnya, Fatima banyak sekali bertanya tentang ajaran agama yang dianutnya. Kenapa Isa disebut anak Tuhan? kenapa Adam tidak disebut anak Tuhan? Kenapa Maria disebut ibu Tuhan? Dan pertanyaan lain yang mengusik hatinya.

Lalu apa jawaban yang didapat Fatima?

Banyak orang yang yang menghindari pertanyaan Fatima. Ada yang tidak menjawab, ada yang menjawab seadanya, ada yang bilang kapan-kapan lagi saya jawab, ada yang bilang nanti kalau Fatima sudah besar, Fatima akan dapatkan jawabannya. Dan semua itu tidak memuaskan rasa penasaran Fatima.

Negara Jerman, tempat rezim Fasis, Nazi, melarang warganya membahas masalah agama. Kondisi seperti ini sangat menekan Fatima sehingga tidak bisa leluasa mencari kebenaran yang selama ini tidak ditemukan dalam ajaran katolik yang ia anut.

Akhirnya di usia yang masih muda, 16 tahun, Fatima keluar dari agama Katolik dan merasa tidak tertarik lagi menanyakan kegelisahannya kepada orang lain. Mulai saat itu ia mengikuti suara hatinya.

Fatima tergolong anak ‘bengal’. Setiap kali diminta ke Gereja, ia menurut. Namun, begitu tiba di depan pintu, Fatima malah berputar arah ke restoran. Menurutnya tidaklah penting berdoa di Gereja, tapi langsung saja berdoa kepada Tuhan dari hati.

Tidak hanya itu, Fatima bahkan termasuk perokok berat. Setiap hari ia bisa menghabiskan sampai 3 bungkus rokok. Namun kebiasaan menghisap zat adiktif ini berhenti total ketika ia masuk Islam, kelak.

Meskipun ‘bengal’, Fatima terbilang sukses di dunia pendidikan. Di sekolah Kesejahteraan Keluarga, Fatima lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah, atas prestasinya itu.

Selepas itu, hobi masak yang dimilikinya sejak kecil mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, Gastronomi, selama 3 tahun. Selama menempuh studi, Fatima banyak mengikuti perlombaan memasak di hotel berbintang 3 hingga 5, dan selalu menjadi juara.

Menginjak usia 19 tahun, selain kuliah, Fatima pun bekerja paruh waktu di hotel Haus Lyskirchen, Jerman, yang diisinya pada hari libur. Setelah dua tahun, Fatima pindah ke hotel Intercontinental di kota Koln.

Karena kejeniusannya, Fatima memperolah penghargaan Grand Diner Amical Des Grand Chapitre L’europe tahun 1985 (Koki terbaik dalam penyediaan Makan malam yang besar dan eksklusif). Setahun kemudian ia pindah lagi ke hotel Haus Lyskirchen di koln yang jaraknya kira-kira 30 km dari kota bonn dan mendapatkan kembali penghargaan Diner Amical.

BERSAMBUNG

What do you think?

Written by

Writer di Rumah Keluarga Indonesia

Aku Lelah, Ayah

Tak Percaya Trinitas selama 15 Tahun, Fatima Nyatakan Jadi Muslimah (2-Habis)