Tanamkan Aqidah pada Anak Sedari Kecil

, Tanamkan Aqidah pada Anak Sedari KecilAqidah adalah fondasi yang kokoh bagi bangunan peradaban Islam. Tanpa aqidah yang terpancang, kekuatan peradaban yang bangun akan goyah. Dan tugas menanamkan aqidah adalah tugas setiap keluarga muslim kepada anak-anak mereka.

Sekolah bisa mengenalkan hal ini, tapi, penanam yang paling kuat dan lebih utama adalah orangtua. Peran orangtua yang memilih kedekatan emosional akan jauh lebih efektif dibandingkan siapapun (seharusnya).

Menanamkan aqidah ke dalam pikiran bukan pekerjaan seketika. Butuh waktu dan kesabaran. Sebab, aqidah adalah masalah yang abstrak. Sedangkan anak usia di bawah 7 tahun, berpikir dengan cara yang konkrit karena sel-sel syarafnya belum terkoneksi semuanya. Itu sebabnya kenapa Rasulullah memeritahkan untuk mengajarkan sholat pada anak usia 7 tahun. Sholat adalah bagian ibadah. Ibadah yang adalah salah satu implementasi aqidah bagi anak-anak memerlukan ‘nalar’ yang lebih sulit.

Tapi penanaman sejak awal, meski pada awalnya mereka belum mengerti, mereka akan mencernanya kelak. Paling penting adalah saat orangtua mengenalkan, membicarakan, menguatkan, menjadikan ini sebagai topik di rumah, secara berulang, insya Allah ini akan terinstall di alam bawah sadar anak. Jika menjadi informasi yang sudah tersimpan di alam bawah sadar, insya Allah sampai anak ini mati tidak mudah hilang dalam pikirannya.

Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Sedangkan Aqidah Secara Syara’ yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Dalam istilah kekinian, aqidah sering dikaitkan dengan kata ‘spiritual’. Menurut Oxford English Dictionary, kata spiritual diartikan persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakkan serta memimpin cara berpikir dan bertingkah laku seseorang.

Boleh tak setuju, dengan demikian bagi saya, spiritualitas yang shahih adalah spiritualitas yang ‘content’ nya adalah berkaitan dengan keyakinan-keyakinan aqidah ini.

Sebenarnya, anak-anak sendiri secara fitrah adalah makhluk spiritual. Secara naluriah mereka memiliki apa yang banyak orang dewasa ‘kehilangan’ dan setelah (maaf) mendekati sisa usia, mereka baru mencarinya kembali. Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri dan nilai hidup anak. [Sumber: Bagaimana Menanamkan Aqidah Pada Anak?. Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School]

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat
1 Komen
  1. Habiah berkata

    Menanamkan dalam diri kanak2 Allah itu ada memerlukan kreativiti penyampaian ibu bapa. Contoh : kakak jangan takut tidur sendirian, Allah ada temankan kakak. Allah ada dalam kamar ini. Allah baik. Allah jaga kakak selama kakak tidur. Macam2 soalan anak2 akan tanya. Dari situlah ibu bapa kena kreative. Ramai ibu bapa yang malas nak melayan soalan anak2. Lantas berkata “jangan macam2 la kamu ini. Tidur sajalah. Kamu sudah besar. Kamu kena tidur sendirian!”

    Bila begitu, anak2 tidak akan suka jadi besar kerena bila besar, kena tidur sendirian. Peranan ibu bapa sangat penting dalam mewujudkan Allah dalam diri anak2 sedari kecil.

Ruangan komen telah ditutup.