Tes Keperawanan, Perlukah?

0

 

, Tes Keperawanan, Perlukah?SMA Prabumulih, Sumatera Selatan, tengah menjadi perbincangan besar. Gagasan mereka untuk melaksanakan tes keperawanan bagi siswi-siswinya menuai berbagai macam komentar.

Tes keperawanan itu, atau lebih tepatnya tes kegadisan, disebut-sebut adalah sebagai bentuk shock therapy, sebagai upaya pencegahan (preventive action) lebih meluasnya praktik pergaulan bebas di kalangan remaja, khususnya anak sekolah.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, wacana tes keperawanan digulirkan  sebagai alternatif solusi yang ditawarkan untuk mengatasi persoalan pergaulan bebas yang sudah sangat meresahkan dan memuakkan. Namun sayang, wacana tes keperawanan ini sesungguhnya hanyalah solusi pragmatis yang sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas itu sendiri.

Tes ini, sesuai tajuknya dilakukan untuk mengetahui kondisi perorangan dari siswa-siswa SLTP, SMU dan calon mahasiswa, apakah dirinya sudah pernah melakukan free sex ataukah tidak. Bagi yang belum terjerumus ke dunia free sex, maka diwanti-wanti untuk tidak sekalipun mencobanya, dan bagi yang sudah pernah, dibimbing untuk menyadari dan berhenti dari (kembali) melakukannya. Hal ini memang baik dilakukan, sebagai bentuk kontrol sekolah terhadap anak-anak didiknya. Namun, selama penerapan aturan, baik dalam lingkup individu, sekolah, masyarakat dan negara adalah aturan sekuler-liberal, yang ruhnya adalah kebebasan, maka persoalan pergaulan selesai  tidak akan pernah bisa diselesaikan hanya dengan tes keperawanan.

Persoalan pergaulan bebas dan derivatnya, hanya akan bisa dibabat habis, jika aturan sekuler-liberal dicampakkan oleh masyarakat. Dan masyarakat mengadopsi dan menerapkan aturan yang berasal dari Dzat Yang Menciptakannya, yaitu Allah Rabbul’aalamiin. Karena aturan Allah SWT inilah, satu-satunya aturan yang akan mendatangkan kemaslahatan, tidak hanya untuk kaum muslimin yang smengimaninya, tapi juga untuk semua manusia (muslim dan non muslim), dan segenap penghuni alam semesta.

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam” (TQS. Al-Anbiya : 107)

Dalam tafsir Shofwatut Tafasir Juz II/253, Al-Ustadz Muhammad Ali Ash-Shobuni menafsirkan firman Allah Swt dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 diatas sebagai berikut:

“Allah SWT tidak berfirman Wamaa arsalnaaka illa Rahmatan lil Mukminiin (Dan tiadalah kami utus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi kaum mukminin), tetapi… lil ‘Alamiin (bagi seluruh alam), sebab Allah SWT menyayangi seluruh makhlukNya dengan mengutus Muhammad Saw. Mengapa demikian? Sebab, Rasulullah Muhammad SAW datang kepada manusia dengan membawa kebahagiaan yang besar, keselamatan dari kesengsaraan tiada tara dan mereka mendapatkan dari tangannya kebaikan yang banyak baik dunia dan akhirat, dia mengajarkan mereka dari kebodohan, memberi petunjuk saat tersesat. Itulah rahmat bagi seluruh alam. Bahkan orang yang menolak risalahnya sekalipun (kuffar), masih dirahmati dengan kedatangannya, lantaran Allah SWT mengakhirkan siksa atas mereka dan mereka tidak disapu bersih oleh adzab Allah sebagaimana kaum terdahulu yang kafir terhadap Allah ditimpa gempa, ditenggelamkan, dan lain-lain.” []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.