Tiga Sukses Wanita

0

 

 

ummahat baruOleh : Hayu Arviani, Pekalongan

Seorang Napoleon Bonaparte pernah ditanya: “Siapakah ibu?” Ia menjawab, “Ibu adalah yang bisa mengayunkan buaian dengan tangan kanannya dan mengayunkan dunia dengan tangan kirinya.”

Ungkapan di atas menunjukkan betapa penting peran seorang wanita. Ia bukan hanya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, seorang wanita ternyata mampu mengubah dan mewarnai dunia.

Perbedaan yang menyolok antara wanita dan pria haruslah secara jujur diakui wanita. Karena wanita diciptakan dengan kondisi fisik dan psikis yang sangat bertolak belakang dengan pria.

Kondisi fitrah seperti itulah yang menjadi sebab diarahkannya wanita kepada peran-peran tertentu. Ini semata-mata agar lalu lintas kehidupan di muka bumi ini tertib, teratur, efektif dan rapi. Meski demikian Islam tetap memberi kebebasan pada wanita untuk berkiprah di segala bidang sesuai dengan kemampuan dan kekhasannya.

Ada tiga sukses yang bisa diperankan wanita.  Pertama, sukses sebagai ibu  bagi anak-anaknya. “Al ummu madrasatun li auladiha.” Ibu adalah sekolah pertama bagi jiwa dan fisik anak-anaknya. Pendidikan di dalam rumah (Learning by Mother) inilah yang akan memberikan kesan mendalam dalam jiwa, (hati, pikiran dan perasaan) seorang anak yang sangat mempengaruhi pola kehidupannya kemudian. Potensi fitrah ini dimiliki lebih oleh wanita dibanding pria.

Kedua, sukses sebagai pendamping setia suami. Wanita adalah penyeimbang bagi pria, demikian pula sebaliknya. Sebagai suami istri, terdapat hubungan timbal balik yang harmonis antara keduanya dan akan terjadi proses saling mengisi, melengkapi dan menyempurnakan.

Seorang isteri seperti pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi isterinya. Kelebihan potensi (baik keahlian, ekonomi, sosial) seorang isteri akan menutupi kekurangan suaminya dan juga sebaliknya. Seorang istri adalah pendorong kesuksesan suami, begitupun sebaliknya. Seorang isteri sukses adalah yang menyejukkan mata bagi pandangan suaminya. (QS 30 : 21)

Kita ingat, betapa seorang Khadijah mampu menentramkan hati sang suami yang tidak lain adalah Rasulullah, saat beliau ketakutan, gemetar, panas dingin setelah kedatangan malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu Allah swt. yang pertama. Patutlah kita sebagai muslimah ber-qudwah pada ibunda Khadijah, ummul mu’minin.

Dan ketiga, sukses sebagai anggota masyarakat. Peran yang satu ini mencakup kedudukannya sebagai anggota masyarakat tempat tinggalnya dan sebagai anggota masyarakat tempat ia bekerja bagi wanita karir.

Sebagai bagian dari masyarakat tempat tinggalnya, seorang wanita harus mampu menempatkan dirinya menjadi orang yang dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat. Ia menjadi teman bagi sesamanya, saudara terdekat, bagi tetangganya dan teladan bagi keluarga lainnya. Kegembiraan mereka adalah kesenangan kita dan kesedihan mereka adalah duka kita. Kalau sudah begitu, persoalan hidup bertetangga (berbangsa) mana lagi yang tak terselesaikan?

Bahkan seorang muslimah memerankan fungsinya sebagai penyampai risalah Islam dalam pergaulannya, melakukan tashawwur Islam untuk memberikan pemahaman yang benar kepada ibu-ibu para tetangganya secara bijak dan keteladanan (QS 33 : 21 dan QS 3 : 104).

Sebagai bagian dari masyarakat tempatnya bekerja, seorang wanita dituntut mampu menunjukkan dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pekerja dan sanggup mewujudkan prestasi kerja yang profesional, bertanggung jawab dan mampu memenej waktu dan pekerjaannya, baik sebagai karyawan pabrik, pegawai kantor, pengusaha, apalagi sebagai pimpinan. Mengapa?

Karena setiap kita adalah pemimpin dan pasti akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Rasulullah bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”

Dari uraian di atas, jelas bahwa wanita (baca : muslimah) menjadi faktor penentu berhasil atau tidaknya suatu bangsa membangun negaranya yang meliputi fisik dan mental seluruh masyarakatnya. Karena dari merekalah akan dibangun peradaban anak-anak, lingkungan keluarga dan masyarakat.

Maka marilah kita sebagai wanita, mulai detik ini merealisasikan peran-peran kita untuk meraih tiga peran sukses tersebut tanpa kita melupakan kodrat kita sebagai perempuan.

Sekali lagi, perempuan berbeda dengan laki-laki. “We are not equal with them, but we can do together with them,” karena memang masalah ini adalah tanggung jawab bersama antara pria dan wanita. []

 

 

 

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline