Timnas U-19 dan Kebangkitan Indonesia

, Timnas U-19 dan Kebangkitan Indonesia

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Euforia kemenangan tim nasional U-19 masih terasa segar di pelupuk ribuan warga tanah air. Sorak-sorai membahana tidak hanya di seantero stadion Gelora Bung Karno yang menjadi tempat berlaga tetapi juga di seantero tanah air.

Kemenangan timnas U-19 menunjukkan prosesnya yang menawan. Setelah mengalahkan Laos dan Filipina, timnas U-19 didikan Indra Sjafri mampu menaklukkan tim Korea Selatan yang digadang memiliki ketangguhan jauh di atas tim tanah air. Diiringi hujan deras, timnas U-19 yang dikepalai kapten Evan Dimas sanggup memenuhi harapan atas jutaan warga Indonesia. Menang.

Menang dan Bangkit
Bukan semata soal menang dan kemampuan untuk maju ke klasemen lebih tinggi. Kemenangan timnas U-19 menjadi momen kebangkitan tanah air. Jika mendengar komentator selama pertandingan berjalan, agak sedih kiranya. Dia mengatakan bahwa tim nasional Indonesia pernah menang mengalahkan negara A di tahun 60 sekian, mengalahkan negara B di tahun sekian yang itu sangat jauh dari waktu kini. Dan kini, di tahun 2013 ini, kita mampu merebut kembali harga diri sebagai negara dengan tim sepak bola yang layak dipandang.

Ya, telah lama negara kita terpuruk. Mungkin tidak saja hanya dari segi tim sepak bolanya. Di beberapa aspek dan banyak aspek mikro maupun makro, negara kita jauh tertinggal. Pesimis? Bukan itu yang ingin disampaikan di sini. Di sini akan sama-sama kita sebarkan keresahan akan lamanya kita terpuruk. Di sini akan kita sadari bahwa kesempatan kita bangkit masih ada dan kemampuan kita untuknya pun tersedia.

Mungkin, agak berlebihan jika menjadikan pertandingan sepak bola ini sebagai tolak ukur kebangkitan dan nasionalisme. Bukan. Ikut serta dalam mendukung tim tanah air bisa jadi salah satu wujud nasionalisme kita, namun bukan sesatunya. Jauh lebih penting dari sekadar menonton dan berteriak gegap gempita adalah menafsiri kebangkitan atas perjuangan mereka.

Perjalanan timnas U-19 memang belum berhenti. Tangga-tangga kemenangan yang mereka kumpulkan mari kita sadari sebagai pemantik bagi kita untuk bangkit dalam berbagai ranah. Katakanlah di regional ASEAN maupun Asia. Tarik menarik antara kekuatan Amerika dan Cina yang tidak bisa tidak, terus membayangi setiap gerakan di dunia ini termasuk ASEAN mesti kita cermati baik. Tidak hanya memposisikan diri sebagai negara yang netral (tidak memblok) tetapi menjadi negara yang mampu menggawangi gerakan negara-negara lain di sekitarya dalam rangka menghimpun kekuatan.

Menjadi negara yang tidak berafiliasi pada dua kekuatan negara adigdaya saja belum cukup. Jika demikian, kemungkinan kita selamanya menjadi follower tanpa pengikut. Menjadi leading country memiliki syarat utama yakni memiliki kekuatan dan diikuti. Bukan berarti negara kita tak memiliki kekuatan. Melihat guliran dan rotasinya selama ini, opini lebih mengarus pada ketidakpercayaan diri negara ini atas kekuatannya. Atau ketidak sadaran atas kekuatan yang dimilikinya.

Anda boleh berpendapat saya sok tahu, banyak omong, atau apapun. Ya, kekuatan saya di situ. Tugas penulis, ya itu, bagaimana ia mampu membangun keresahan publik agar dari sana terpantik kekuatan dan pergerakan untuk bangkit dan melawan.

Negara kita memang bukan negara jajahan manapun secara nyata. Akan tetapi, apa yang kita rasakan justru sebaliknya. Kita tidak mampu, entah karena takut, merasa tidak mampu auat apa, bersuara dengan lantang akan diri kita, negara Indonesia. Untuk hal seperti beras cabai, dan banyak lainnya pun kita mesti mengimpor. Untuk membela negara yang tengah mengalami bencana kemanusiaan karena dijajah pun, kita tak berani. Di mana jiwa menang kita jika demikian?

Saya teringat akan sebuah film animasi berjudul ‘ANTS’. Di film tersebut digambarkan koloni semut yang jutaan banyaknya dapat dijajaj oleh serangga jahat. Para serangga memperbudak semut di tanah semut sendiri. Nah, momen kebangkitan semut justru ada pada sebuah kesadaran. Ya, kesadaran bahwa para semut memiliki kekuatan. Jumlah mereka banyak. Mereka yang bersatu jelas mampu kalahkan para serangga jahat dengan mudah. Hanya butuh hal itu; kesadaran, kesatuan, dan kekuatan untuk bergerak melawan.

Semoga saja kebanggaan kita akan para anak muda timnas U-19 tidak berhenti pada kebanggaan sia-sia dan hilang tanpa makna. Mari jadikan kebanggaan itu momentum untuk kita berbenah dan sadar akan kekuatan kita sebagai negara bangsa, Indonesia. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.