Torey Hayden & Kita

0

 

Oleh: Intan Savitri*, *Pengarang, Pekerja Sosial

Ms. Hayden pernah datang ke Indonesia, dan sebenarnya saya belum lama membaca buku-bukunya, sebab harga bukunya tergolong mahal untuk kantong penulis seperti saya. Jujur, ada suatu keistimewaan yang saya dapatkan setiap kali membaca bukunya, tanpa bermaksud apa-apa, saya sering berpikir, bagaimana bisa ditengah-tengah rimba egoisme, ideologi kapitalis, snobisme yang melanda masyarakat Barat, ada seseorang yang berhati tulus, penuh komitmen, sekaligus profesional seperti Ms. Hayden. Yah, setidaknya itulah yang saya tangkap dari tulisan dalam buku-bukunya.

Saya bisa sedikit berempati, bahwa pekerjaan menjadi guru bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi guru bagi anak-anak dengan kelainan mental, gangguan emosional dan cacat otak, korban kekerasan, sungguh membutuhkan pengorbanan dan kesabaran tersendiri. Meski saya hanya dua tahun menjadi guru di sebuah sekolah dasar Islam Terpadu, tetapi saya pernah mengalaminya, menangani anak-anak yang sebenarnya normal, tetapi karena sesuatu hal mereka tidak bisa bergaul dengan anak seusianya, melainkan lekat dan lebih suka mengobrol dengan saya, lalu selama pelajaran berlangsung ia hanya bersembunyi di bawah meja dan mengobrol sendiri dengan teman imajinernya. Tidak mudah, dan saya mengacungkan dua jempol untuk Ms. Hayden atas kecintaannya pada pekerjaannya, paling tidak, jauh lebih baik daripada saya yang hanya kuat bertahan selama dua tahun.

Komitmen Seorang Guru

Ada banyak hal yang  saya petik dari kehidupan Ms. Hayden bersama murid-murid kecilnya. Jujur, saya ingin mengambil hikmah darinya dan memaparkannya kepada Anda sebagai bukti bahwa hikmah bisa diambil dari siapa saja, sebab ia adalah milik kita, umat Islam. Kepercayaan yang dipegang teguh Ms. Hayden dalam berinteraksi dengan murid-muridnya yang pertama adalah azaz komitmen. Ia menjadi profesional, tulus, mencintai dengan sungguh-sungguh pekerjaannya sekaligus mengasihi murid-muridnya, karena KOMITMEN.

Saya ingat betul, betapa kepercayaan inilah yang ditanamkan kepada kita sebagai seorang murrobi-murrobiyah (baca:da’i, guru) bagi para binaan kita. Saya tersenyum saat mengambil analogi bahwa sebenarnya yang dilakukan Ms. Hayden dan kita hampir sama. Ia mencoba untuk mengetahui penyebab gangguan emosi yang dialami murid-muridnya, menganalisanya, menuliskan laporannya, dan berusaha menciptakan suasana kehidupan yang berbeda dengan waktu sebelum anak-anak itu berinteraksi dengannya. Seperti kaidah amal tahwiil Al-jahalah  ilal ma’rifah, memindahkan pemahaman jahiliyah kepada pengetahuan. Lalu Ms. Hayden melatih mereka untuk berinteraksi, bergerak, menemukan dan mengenali dirinya sendiri, dan jika mungkin mengembangkan hal-hal positif yang mereka punyai dan menekan sebesar mungkin hal-hal negatif yang mereka miliki, lalu memberi tugas-tugas pribadi yang membantu mereka berkembang,  mirip dengan konsep amal  tahwiil ma’rifah ilal fikrah, lalu tahwiil al-fikrah ilal harakah. Hebat sekali, Ms. Hayden secara naluriah dan berdasar keilmuannya melakukan tarbiyah bagi murid-muridnya, sebagaimana kita juga kita melakukannya pada binaan-binaan kita. Meskipun dimensinya berbeda, murid-murid Ms. Hayden diharapkan akan mendapat pencerahan dan akhirnya bisa terlepas dari masalahnya sendiri, sebagaimana kita pun mengharapkan hal yang sama pada.

Tetapi kemudian yang kadangkala saya temui, tidak semua dari kita memiliki KOMITMEN, sehingga kita lebih sering merasa tidak terganggu, jika ada yang salah dengan  ′′murid-murid′  kita, atau bahkan kemudian begitu mudah memberikan judgment bahwa mereka memang tidak cukup berkualitas untuk bergerak bersama kita.

Sungguh memang tidak bisa diambil analogi secara persis, antara yang dilakukan Ms. Hayden dengan proses tarbiyah yang kita lakukan kepada binaan kita. Namun, proses pencerahan dan harapan kita kepada mereka mirip dengan apa yang dilakukannya. Hanya saja kita menangani orang-orang dewasa yang tentunya memiliki metode yang berbeda. Ah, tetapi komitmen memang bukan barang yang murah, Rasulullah saja mengatakan bahwa ganjarannya demikian luarbiasa,

“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam” (HR. Bukhari-Muslim)

Yah, lebih baik daripada seluruh isi bumi dan semesta ini.Amazing! Tetapi seberapa banyak yang bersedia menempuh proses itu? Ms. Hayden membiarkan dirinya dicakar, disakiti, dimuntahi, bahkan membersihkan kotoran mereka. Berapa banyak dari kita yang bersedia menemani binaan kita saat mereka kekurangan, kesakitan, atau bahkan putus asa? Lalu bagi binaan yang mengikuti tarbiyah, berapa banyak yang akhirnya menjadi murrobi sebagaimana kita, sebagaimana yang kita harapkan?

Kepekaan dan Pengamatan yang Detil

Satu hal lain yang juga dilakukan Ms. Hayden adalah mengedepankan kepekaan dan juga pengamatan yang detil kepada seluruh murid-murid yang ditanganinya. Ia bahkan membuat semacam rekaman tertulis maupun visual. Ia terus melakukan pengamatan dan menganalisa perkembangan murid-muridnya, day by day, week by week, month by month, bahkan ada yang bertemu setelah tujuh tahun berpisah, dan Ms. Hayden masih menyempatkan diri untuk terlibat penuh masuk dalam kehidupan muridnya, seperti kasus Sheila.

Kita juga melakukan hal yang sama. Mencatat kehadiran binaan kita, memutabaahi amalan yaumiyah mereka, memantau aktifitas a’iliyah mereka, bahkan kadangkala ikut memberikan solusi pada permasalahan mereka. Tetapi, ada berapa prosenkah  dari kita yang menuliskan seluruh aspek perkembangan mutarobinya hingga begitu detil? Sehingga ia menangkap polanya, menelitinya, menganalisanya dengan ilmu psikologi demi kebaikannya. Ah, saya jadi teringat perkataan Ustadz Anis Matta, bahwa untuk berhubungan dengan manusia setidak-tidaknya kita harus menguasai dasar-dasar ilmu psikologi. Dan bukankah itu pekerjaan kita dalam dakwah sebagai seorang murrobi adalah berarti berhubungan dengan manusia?

Mungkin banyak yang kurang sepakat dengan saya, tetapi paling tidak ini sebuah wacana yang menarik. Jika mutarobi tidak berkembang sebagaimana kita harapkan boleh jadi kitalah yang pertama kali harus di evaluasi, jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita berhubungan dengan mereka.

Yah, menjadi murobi memang tidak mudah. Tetapi bukankah dari awal kita sudah memiliki Komitmen untuk menempuh jalan ini?

Wallahu a’lam

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.