Tradisi Bangunkan Sahur di Irak Terancam Punah

0

 

, Tradisi Bangunkan Sahur di Irak Terancam PunahSeperti juga di Indonesia, Irak memiliki tradisi sendiri saat bulan Ramadan. Salah satunya, adalah Mousaheratis, yaitu tradisi membangunkan sahur yang dilakukan seorang pria dengan menabuh drum di sekitar lingkungan dan dilakukan selama 30 hari.

Banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, sejak invasi Amerika tahun 2003, Mousaheratis kini terancam punah, hanya menyisakan segelintir orang-orang yang berlalu-lalang ketika dini hari.

“Mousaheratis hampir punah. Hanya ada beberapa orang yang tetap mempertahankannya, bahkan mereka hanya bekerja secara sporadis, tidak setiap hari,” tutur Sabah, yang mewarisi posisi ayahnya, yang melakukan pekerjaan itu selama 18 tahun.

Berteriak  “sahur..  sahur…” sebelum adzan shubuh berkumandang membangunkan warga untuk sahur. Namun tradisi Mousaheratis telah menurun di Irak karena alasan keamanan dan jam malam yang diberlakukan oleh pihak berwenang di Samarra dan kota-kota besar lainnya antara tengah malam sampai jam pagi.

Alasan Keamanan

Sebuah kombinasi antara keamanan dan pembatasan gerak, telah menyebabkan penurunan tajam dalam jumlah mousaheratis Irak.

“Di masa lalu, masing-masing kampung memiliki mousaherati tersendiri, anak-anak menyapa mereka dengan jeritan kebahagiaan, tapi sekarang, ketakutan dan ketidakamanan telah membuat mereka menjauh,” kenang Abu Jassim, seorang pensiunan yang sedang duduk di toko sayur di lingkungan utama Karrada komersial Baghdad.

Kasus ini bahkan lebih buruk, di Mosul dan sekitar provinsi Nineveh, warga sudah tidak menemukan lagi mousaheratis, menurut para tokoh agama setempat.

“Mousaheratis telah lenyap sama sekali dalam beberapa tahun terakhir di Mosul karena situasi keamanan, dan tidak adanya dukungan dari pejabat setempat,” keluh Muhammad Khaled al-Araibi, pejabat yayasan Niniwe nasional Sunni. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.