Trosky & Cinta

, Trosky & Cinta

Oleh: Mumammad Ali Imron

“Saya akan meninggal sebagai seorang proletar revolusioner, seorang Marxis, dan seorang dialektika-materialis, dan seorang ateis. Kepercayaan saya terhadap masa depan komunis dari umat manusia tidaklah berkurang, sebaliknya ia bertambah kuat hari ini dibandingkan saat hari-hari muda saya.”

Alinea diatas adalah sepenggal isi dalam surat warisan Trotsky, (Trotsky’s Testament, 27 Februari 1949).

Leon Trotsky, nama aslinya adalah Lev Davidovich Bronstein, dilahirkan pada tanggal 7 November 1879, adalah seorang revolusioner dan ahli teori Marxis.

Bersama dengan Lenin, dia adalah salah seorang pemimpin Revolusi Oktober 1917, yakni revolusi buruh yang pertama di dunia yang berhasil menumbangkan kapitalisme.

Kang Cecep manggut-manggut, memegang janggut, sambil merunut wejangan seorang ustadz yang didengarnya tadi dalam pengajian rutinnya.

“Wa minanasi man yattakhidzu min duunillahi andadayuhibbuunahum kahubbillah, walladziina aamanu asyaddu hubbalillah…..” 

(Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah).

Seorang Trotsky begitu cintanya kepada ideologi yang ia pegang, hatta sampai matipun tak luntur bahkan bertambah kuat.

Seharusnya orang-orang beriman cintanya kepada Allah melebihi cinta Trotsky kepada ideologi yang dipegangnya.

Seharusnya pemuda-pemudi Islam tidak minder untuk bangga atas identitasnya.

“Jika yang dimaksud fundamentalis adalah orang yang memegang teguh Alqur’an dan Sunnah, maka jadikanlah hamba orang yang paling funamentalis sedunia,” sebagaimana doa buya Hamka. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.