Ummahat Manja (1)

, Ummahat Manja (1)Selama ini mungkin saya termasuk dalam kriteria ummahat manja. Bagaimana tidak? Seringkali dalam banyak hal dan urusan, saya selalu mengandalkan suami saya. Mengantar dan menjemput anak sekolah, pulang dan pergi pengajian bahkan sampai pada urusan kecil seperti belanja untuk keperluan rumah tangga, saya selalu menunggu atau membuat janji dengan suami, kapan beliau bisa mengantar saya.

Khusus untuk mengantar dan menjemput anak-anak sekolah ada ummahat lain yang berkomentar pada saya, “Mbok ya anak-anak dijemput sendiri Ukh, apa nggak kasihan sama abinya sedang bekerja harus memikirkan antar jemput anak?” Dengan entengnya saya malah menjawab, “Justru Abinya kasihan sama saya kalau panas-panasan jemput anak-anak sekolah, he.. he.”

Kalau dilihat sekilas mungkin hal ini masih “wajar”. Tapi lama-lama saya merasa hal ini sangat menghambat mobilitas saya sebagai seorang yang ingin terlibat jauh dalam aktivitas dakwah. Jika saya tiba-tiba harus menerima amanah (di luar jadwal rutin) untuk menggantikan seorang “Ukh” mengisi pengajian, maka secara terpaksa saya harus “mengganggu lagi” pekerjaan suami saya untuk mengantar dan menjemput saya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Karena saya memang tidak berani mengendarai sepeda motor sendiri, selain itu di kota kami yang kecil ini hanya “becak” yang biasa mengantar kami ke mana-mana. Untuk mencapai tempat yang dekat saja mungkin tidak ada masalah, bagaimana dengan tempat yang jauh? Selain itu, sebagai istri, saya juga harus bisa mengatur pengeluaran keluarga dengan berhemat, yaitu dengan menggunakan “kuda” kami ke tempat tujuan yang masih bisa dijangkau.

Namun, sebagai seorang istri yang mendamba syurga Allah, saya menyadari bahwa suami saya pun punya jadwal pribadi untuk memenuhi kebutuhan ruhi, fikri dan jasadi. Ditambah lagi amanah yang dipikul oleh suami tidak bisa dikatakan ringan. Amanah mencari ma’isyah ditambah amanah-amanah dakwah yang cukup menyita waktunya. Seolah-olah waktu yang sehari 24 jam, sepekan 7 hari itu itu masih kurang dengan seabrek aktivitas yang tak kunjung selesai.

Sering saya merenung apakah saya sudah terlalu membebani suami saya dengan hal-hal kecil yang semestinya bisa saya kerjakan sendiri? Karena label ummahat manja sudah terlanjur melekat pada diri saya? Kadang saya membela diri, “Ah, masih banyak kok ummahat lain yang lebih manja dari saya, ada yang bahkan sebagian besar tugas kerumahtanggaan malah dikerjakan oleh suami tercintanya. Mencuci, menyetrika, mengepel, bahkan memasak. Tidak jarang suami juga ‘terjun bebas’ dalam kegiatan mengasuh anak, mulai dari memandikan, menyuapi, mengajar mengaji, belajar mata pelajaran di sekolah sampai menidurkan anak.”

BERSAMBUNG

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.