Ummahat Manja (2-Habis)

, Ummahat Manja (2-Habis)Kasus terbaru yang sempat membuat saya terperangah dan terbengong-bengong adalah ada seorang ummahat yang mungkin karena kadar ketergantungan pada suaminya cukup tinggi, ketika sang suami ke luar kota beliau kewalahan menangani dua buah hatinya. Sang buah hati tak bisa didiamkan atau meredakan tangisnya ketika bertengkar (biasanya berebut mainan, dan lain-lain) dengan kakaknya kalau bukan dengan ayahnya. Parahnya, si buah hati baru bisa tenang ketika didamaikan oleh tetangganya sampai-sampai si tetangga harus membatalkan janji yang sudah dibuatnya demi untuk menemani si ummahat menghabiskan malam. Nah loh!?

Saya jadi heran, sebenarnya tugas seorang ummahat itu apa, sampai-sampai semua hal dikerjakan oleh para suami? Memang tidak ada ayat al-Qur’an dan hadis nabi yang “mewajibkan” kita mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Semua itu merupakan wujud pengabdian kita pada Allah SWT semata dan usaha-usaha kita dalam memenuhi hak-hak suami kita.

Bolehlah sekali-kali suami membantu meringankan pekerjaan istrinya apalagi istri yang memang tidak hanya sebagai ibu rumah tangga saja, dia juga daiyah, tentunya sangat berat jika harus mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri. Suami bisa memberikan fasilitas yang memudahkan/ meringankan pekerjaan si istri. Tapi, jika kondisi ekonomi tidak memungkinkan suami bisa langsung turun tangan.

Tetapi saya sangat tidak setuju jika ada ummahat yang tidak bisa mengendalikan perilaku dan emosi anak-anaknya. Memang benar kalau tanggung jawab merawat, mengasuh dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama suami istri. Tapi, saya masih sangat meyakini ikatan batin antara ibu dengan anak lebih kuat dibandingkan dengan ayahnya. Tentu saja karena sejak anak di dalam kandungan, kemudian dilahirkan, sampai anak besar, seorang ibu lebih sering berinteraksi dengan anak-anaknya sehingga jalinan emosi lebih kuat.

Bagaimana mungkin akhirnya kita “kalah” dengan suami kita dalam kemampuan menghadapi polah dan tingkah laku anak-anak kita. Bukankah hati seorang wanita, apalagi yang ummahat itu lebih halus dibanding laki-laki. Bukankah itu berarti sebagai seorang yang berperasaan halus kita akan lebih mampu menghadapi dan menangani “kenakalan-kenakalan” anak kita, yang mungkin saja itu merupakan tanda-tanda “kreativitas” mereka. Sehingga, kita dituntut punya stok kesabaran yang lebih banyak supaya kita bisa mengantarkan anak-anak kita pada tujuan yang ingin kita capai. Apakah kita akan menunggu sampai suami pulang kantor ketika anak kita sedang menjerit histeris padahal dia hanya membutuhkan dekapan sayang kita. Saya malu jika menjadi ummahat manja dalam hal ini. Wallahu a’lam. [Sumber: Majalah Saksi]

HABIS

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.