Waduh, Ini Pengaruh Terus Mengenang Masa Lalu untuk Kesehatan

, Waduh, Ini Pengaruh Terus Mengenang Masa Lalu untuk KesehatanSetiap orang pastilah punya masa lalu. Ya iya lah hehe. Dalam menyikapi masa lalu ini kita harus pandai-pandai. Mengenang masa lalu sah-sah saja dilakukan. Namun, jangan sampai dengan cara yang salah dan negatif. Mengapa? Karena akibat yang bisa di dapat adalah, bahaya bagi kesehatan. Mengapa bisa begitu? Simak dulu yang di bawah ini.

Sebuah studi di University of Granada melaporkan, sikap orang pada peristiwa masa lalu, pengalaman sekarang dan harapan masa depan berpengaruh pada persepsi kesehatan dan juga kualitas hidupnya. Mereka mengatakan, bahwa saat mereka mengamati ketika orang menanggapi negatif masa lalu yang buruk dalam hidupnya, mereka akan menjadi pesimistif atau bersikap fatalistik terhadap peristiwa saat ini.

Sikap yang negatif terhadap masa lalu yang buruk bisa menimbulkan masalah yang lebih besar dalam hubungan dengan orang lain, dan juga menyebabkan kualitas yang buruk pada indikator kehidupan. Dalam studi ini, peneliti menilai 50 orang dengan 25 wanita dan 25 pria yang berusia antara 20 hingga 70 tahun. Peneliti menggunakan kuisioner dan sampel acak dan tes orientasi waktu. Tes yang diberikan berupa lima dimensi yang menggambarkan sikap terhadap masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Hasilnya, peneliti menemukan, orang yang cenderung negatif dengan masa lalu, lebih sulit membuat upaya fisik dalam kehidupan sehari-hari dan punya keterbatasan untuk kinerja yang baik. Mereka merasakan nyeri tubuh lebih besar dan lebih cenderung menjadi sakit. Kata mereka, menurut pengamatan dalam penelitian tersebut, dimensi yang paling mempengaruhi adalah persepsi dari masa lalu. Sebuah pandangan negatif dari masa lalu sangat terkait indikator kesehatan yang buruk.

Jadi dapat kita simpulkan, bahwa seburuk apa pun masa lalu yang kita miliki, jangan deh kita berpikiran negatif dengan masa lalu itu. Semua pasti  ada hikmahnya. Maju terus, hadapi jalan di depan yang masih panjang, cukuplah masalalu kita jadikan sebagai pembelajaran, bukannya beban. [Sumber: sekitar remaja]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.