Wajah Sinetron Kita

 

, Wajah Sinetron KitaDewasa ini media televisi kita dibombardir dengan kehadiran tayangan-tayangan yang bernuansa religius. Sekilas tayangan seperti itu akan memberikan kontribusi edukatif bagi pemirsa sekaligus hiburan lantaran dikemas dengan style entertainment. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, ternyata kontekstualisasi tayangan tersebut sudah keluar dari substansi awal. Kendati masih didasarkan pada kisah-kisah nyata yang merujuk pada Alqur’an, namunalur cerita dan pengangkatan dari kisah nyata ke format sinetron menjadi semacam tayangan  sudah sarat dengan unsur rekayasa.

Betapa tidak, pada awal penayangan pemirsa dibikin terpesona dengan kisah-kisah nyata yang karena ulah manusia sendiri semasa hidupnya, ia serta merta akan menuai semua akibat yang ditimbulkannya. Menjelang ajal atau dalam alam kubur itulah, kuasa Allah ditunjukkan. Sebagian manusia tersadar dan menyadari bahwa berbuat sesuatu yang berbau kecurangan akan berakibat kerugian pada diri sendiri di akherat kelak.

Namun dalam penayangan periode berikutnya – barangkali kekurangan atau kesulitan menemukan kisah nyata – cerita yang tersaji nyaris tidak lagi mempunyai greget. Sebagian pemirsa sudah mulai meragukan keaslian kisah. Benarkah demikian? Benarkah Allah mudah marah, sehingga diturunkannya azab seperti itu?

Pertanyaan di atas sederhana, tetapi terasa sangat menggelitik sekaligus mengusik perhatian. Mengapa para sineas tidak membikin sinetron yang lepas dari belenggu psikologi anak atau kalaupun terpaksa membuat sinetron yang semacam itu mbok ya rasionalitasnya dijaga, sehingga tidak menimbulkan beragam pertanyaan yang menggantung.

Jika dirunut dari tujuan awal agaknya penayangan sinetron mistis-religi tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas, terutama umat Islam dalam rangka menegakkan syariat dan mengkokohkan iman seseorang sembari memberikan bukti kongkrit perihal mukjizat Allah guna menyadarkan dan meluruskan akhlak manusia.

Tetapi dalam perkembangannya, keajaiban atau kejadian-kejadian yang melibatkan unsur supranatural dan kekuatan Allah menjadi sebuah komponen yang penuh dengan rekayasa, terlalu kental dengan unsur kesengajaan dan tidak lagi mengandung ketakjuban. Jadilah sinetron yang ditayangkan menjadi tontotan tanpa substansi pelajaran dan bukan sinetron yang sarat dengan makna tuntutan bagi pemirsa, lantaran sudah dipenuhi dengan angka-angka profit.  []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.