Wanita, yang Pertama Menopang Perjuangan

 

, Wanita, yang Pertama Menopang PerjuanganWanita diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Ia begitu lembut, tapi memiliki kekuatan yang besar. Ia berada di samping laki-laki yang dapat mempengaruhinya untuk berbuat sesuai apa yang ia inginkan. Ia membuat laki-laki menjadi buta karena cinta yang memikatnya. Maka, dibalik kemenangan dan kegagalan seorang laki-laki itu berdasarkan wanita yang dimilikinya.

Wanita ibarat sebuah ladang yang di tumbuhi benih-benih padi, jika ladang itu baik, ia pun akan menghasilkan jenis padi yang baik, yang mampu bersaing di pasaran Dakwah. Berani meneriakkan kebenaran di tengah bisingan dunia dan sekutunya.

Musuh-musuh Islam sangat sadar betapa besar pengaruh wanita dalam mempersiapkan dan melahirkan pejuang-pejuang Islam. Sejarah telah mencatat nama-nama mereka dengan tinta emas yang akan senantiasa dirindukan oleh siapa saja yang menjadikan mereka sebagai qudwah dalam mengarungi derasnya kehidupan ini.

Wanita adalah setengah dari kehidupan ini, wanita juga yang melahirkan setengahnya lagi. Wanitalah yang melahirkan para ulama dan para wanita pulalah yang mentarbiyah para mujahid. Wanita juga yang mendidik para da’i serta wanita juga yang melahirkan tokoh-tokoh sejarah yang mampu mengubah wajah dunia.

Ketahuilah sosok pertama yang berdiri menopang dan menerima kebenaran Islam adalah seorang wanita. Tatkala seluruh kaum laki-laki menolak dan mencemooh risalah kenabian yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, Wanita ini yang justru berdiri memberikan kekuatan dan motivasi kepada beliau. Di tengah derasnya ujian yang menghadang dakwah beliau, istri beliaulah yang membela mati-matian perjuangan dakwah Islam. Dialah ibu kita Khadijah radiallahu anha, sosok wanita pertama yang mengambil bagian dalam kancah perjuangan.

Wanita yang pertama kali masuk dan memeluk agama ini, wanita yang mengalahkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radiallahu an’hum jamian. Beliaulah sosok sang mujahidah sejati, tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan kepada kaum muslimin di bidang politik dan ekonomi, Khadijah tidak ragu untuk bergabung bersama barisan kaum muslimin. Beliau tinggalkan kampung halaman tercinta untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama suaminya tercinta, menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesengsaraan, hingga berakhirlah pemboikotan tersebut.

Tidak heran jikalau beliau mendapatkan kehormatan dari Tuhan semesta alam. Allah subhanahu wa ta’ala menyampaikan peghormatan (salam) kepadanya dari langit ketujuh dan menjanjikan untuknya sebuah rumah di Surga. Sebagaimana telah disebut dalam hadits dari Abu Hurairah, “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya yang maha mulia lagi maha agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan’.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu).

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada Khadijah atas segala jasa dan kebaikanya dalam membela agama dan Rasul-Nya dengan balasan yang sebaik-baik balasan serta penuh kenikmatan dan kecemerlangan di dalam “istananya”. [ibbaspakistan]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.