Yth. Ibu Negara, Kami Berduka

 

, Yth. Ibu Negara, Kami BerdukaOleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Yang terhormat Ibu Negara.
Ibu Negara yang bijaksana. Perhelatan Miss World sudah nampak di pelupuk mata. Hingar bingarnya sudah tercium di banyak media. Pro-nya digencarkan sedemikian rupa. Kontra-nya dipupuskan dan didiamkan saja.

Ibu Negara yang semoga masih terhormat.
Apa halnya ajang yang menampakkan aurat wanita ini jadi banggaan. Bukan martabat tapi cela dalam pandang manusia dan Tuhannya. Lenggok indah wanita berbalut busana dinampakkan bak obralan di panggung hiburan. Ah, saya malu. Saya kasihan.

Ibu Negara yang semoga masih layak kita hormati.
Tak kurangnya cendekiawan di negeri ini. Tak habisnya inovasi untuk raihan bernama prestasi. Anak bangsa pun bermunculan dengan segudang capaian bangsa dan diri. Mengapa ajang bikini harus kita ikuti demi label internasional semu bumi. Ya, kecuali memang negara ini menjual wanitanya demikian. Ya, kecuali memang negara ini tak peduli namanya moral dan edukasi.

Ibu Negara yang tak kurangnya kami banggai.
Aku wanita, kau juga wanita. Aku pun bangga dengan kurnia Tuhan berupa diri ini. Tapi tidak untuk kunistakan dengan balutan kontes intelektual yang pamerkan hiasan diri. Tapi tidak dengan bisniskan diri di sana sini.

Ibu Negaraku.
Aku bukan wanita kolot yang bisanya hanya diam dan menanti. Aku pun belajar dan berkarya untuk harumkan negeri ini. Dengan kehormatan. Dengan martabatnya. Agar negeri ini tercinta tak lagi dijajah ekonominya. Agar negeri tercinta ini mampu mengangkat dagu mengelola sumber alam dan manusianya mandiri. Agar negeri tersayang ini tak lagi mengemis dan berhutang tak kepalang tujuh turunan. Kedelai mengimpor padahal negeri kedelai. Beras membeli padahal katanya lumbung padi.

Ibu.
Tak bisakah ibu membuka mata hati? Tak bisakah ibu mendengar bisik lirih diri? Kami wanita-wanita negeri merasa perih. Mereka di sana berjalan melenggok di atas panggung dan dipuja sedemikian rupa. Kami di sini mungkin ada yang tak tahu ke mana saat sakit menyerang diri, anak kami, keluarga kami Mereka di sana dipajang dan dirias bak putri kahyangan. Kami di sini, kenyang sehari pun jadi impian. Ah, ke mana nurani, ke mana harga diri?

Ibu Negara yang sebenarnya sangat ingin kami hormati.
Kami bingung saat kelak anak kami bertanya seperti apakah idola wanita? Ah, tentu saja takkan kujawab seperti mereka yang di catwalk sana. Atau, maaf, tak jua kujawab sepertimu, Ibu. Wanita mulia adalah wanita yang sadar sepenuhnya bahwa ia tiang negara. Wanita yang menjaga dan terjaga akhlaknya. Bukan diam semata, bukan. Wanita mulia sadar ia abdi Tuhannya, suaminya, orang tuanya, masyarakatnya. Wanita mulia mendidik anaknya dengan keteladanan dan harga diri tangguh manusia. Wanita mulia berkarya untuk negaranya dengan ilmunya, kehormatannya, cintanya.

Untukmu Ibu Negara, kami berduka. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.