Ziarah Ayah

0

 

, Ziarah Ayaholeh : Abdul Hakim

Ayah,
Apa kabar?

Menjelang gelap sore tadi angin pembawa hujan menerpa wajahku
Dan seketika aku merindukanmu. Sungguh
Dingin yang dihantarkannya membawa ketenangan dan keteduhan
Rasa yang sama saat kutatap pundakmu dari rindang
Saat kau teguh menahan lelah
Saat kau tegar menahan terik
Menggarap kebun kebun palawija kita
Seulas senyum dari wajah penuh tanah dan peluh itu
Aku merindukannya sungguh

Dan aku menahan langkahku
Saat angin senja ini menelusuk hangatku
Orang bilang air mata adalah penawar rindu
Tapi aku memilih senyum
Berharap menghadirkan senyum yang sama
Senyummu…
Senyummu saat menatap kerutan dahiku yg lelah menghafal hijahiya
Senyummu saat mendengarku mengeja kata demi kata ditemani temaram lampu minyak kita
Dan senyumku saat berlari menyambut hasil kebun yang kau bawa

Senja sore ini kembali berbisik
Tentang hangatnya mentari dipematang sawah kita
Tentang rindang pohon pohon akasia di ladang kita
Tentang cangkul, tanah, terik dan tangan yang tak pernah lelah
Tentang lelaki sederhana yang ingin setiap jiwa mengenal Tuhannya.

Ayah,
Aku merindukanmu. sungguh…

Cikeas, 14 September 2013

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline